Jumat, 27 April 2012

Jenis-jenis Lingkungan Pendidikan


Jenis-jenis Lingkungan Pendidikan
Lingkungan alam; adalah segala sesuatu yang ada di dunia ini yang berada di luar diri anak yang bukan manusia, seperti tumbuh-tumbuhan, iklim, air, gedung, dan rumah.
Lingkungan sosial; adalah semua manusia yang berada di luar diri seseorang yang dapat mempengaruhi diri orang tersebut. Teman sekolah, teman sejawat, atau orang sekitar tempat tinggal merupakan lingkungan sosial yang bersifat langsung. Sedangkan program-program televisi, radio, surat kabar atau media cetak lainnya termasuk lingkungan sosial tidak langsung.

Pengaruh Masing-masing Lingkungan Pendidikan
Beberapa pengaruh lingkungan pendidikan terhadap anak:
1. Faktor internal. Siswa yang terlibat perkelahian biasanya melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks disini berarti keanekaragaman pandangan, budaya, ekonomi, dan semua rangsangan dari lingkungan yang makin lama makin beragam. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tetapi, pada siswa yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi untuk mengembangkan dirinya. Bisanya mereka mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang atau pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk menyelesaikan masalahnya. Ada siswa yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain. Mereka biasanya membutuhkan pengakuan.
2. Faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan jelas berdampak pada anak. Anak belajar bahwa kekerasan bagian dari dirinya, sehingga orang tua yang terlalu melindungi anaknya, anak akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya dia akan menyerahkan dirinya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.
3. Faktor lingkungan. Lingkungan diantara rumah dan sekolah yang siswa alami, juga membawa dampak munculnya perkelahian. Misalnya, lingkungan rumah yang sempit, anggota lingkungan yang berperilaku buruk. Semuanya itu dapat merangsang siswa untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, kemudain reaksi emosional yang berkembang mendukung munculnya perilaku berkelahi.

Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. Keluarga dipandang sebagai lingkungan dini yang dibangun oleh orangtua dan orang-orang terdekat. Dalam bentuknya keluarga selalu memiliki kekhasan. Setiap keluarga selalu berbeda dengan keluarga lainnya. Ia dinamis dan memiliki sejarah “perjuangan, nilai-nilai, kebiasaan” yang turun temurun mempengaruhi secara akulturatif (tidak tersadari). Sebagaian ahli menyebutnya dbahwa Pengaruh keluarga amat besar dalam pembentukan pondasi kepribadian anak. Keluarga yang gagal membentuk kepribadian anak biasanya adalah keluarga yang penuh konflik, tidak bahagia, tidak solid antara nilai dan praktek, serta tidak kuat terhadap nilai-nilai baru yang rusak.
Lingkungan kedua adalah lingkungan masyarakat, atau lingkungan pergaulan anak. Biasanya adalah teman-teman sebaya di lingkungan terdekat. Secara umum anak-anak Indonesia merupakan anak “kampung”  yang selalu punya “konco dolanan”. Berbeda dengan anak kota yang sudah sejak dini terasing dari pergaulana karena berada di lingkungan kompleks yang individualistik.
Secara umum masyarakat Jawa hidup dalam norma masyarakat yang relatif masih baik, meskipun pergeseran-pergeserannya ke arah rapuh semakin kuat. Lingkungan buruk  yang sering terjadi di sekitar anak, misalnya: kelompok pengangguran, judi yang di”terima”, perkataan jorok dan kasar, “yang-yangan” remaja yang dianggap lumrah, dan dunia hiburan yang tidak mendidik.
Sebenarnya masih banyak pengaruh positif yang dapat diserap oleh anak-anak kita di wilayah budaya masyarakat Jawa, seperti: tutur kata bahasa Jawa yang kromo inggil ataupun berbagai peraturan hidup yang tumbuh di dalam budaya Jawa. Masalahnya adalah bagaiamana mengelaborasi nilai-nilai tersebut agar cocok dengan nilai-nilai modernitas dan Islam.
          Namun Pada masa kini pengaruh sesungguhnya mana yang buruk dan bukan menjadi serba relatif dan kadang tidak dapat dirunut lagi. Banyak anak yang mengalami kesulitan menghadapi anak bukan karena keluarga mereka tidak memberikan kebiasaan yang baik. Demikian juga banyak anak yang tetap dapat menjadi baik justru tumbuh di keluarga yang kurang baik.

Lingkungan Pendidikan


Lingkungan adalah semua makhluk yang yang berada dalam alam (dunia) ini, yang hidup ( biotik) maupun yang tidak hidup (abiotik) yang mempengaruhi perilaku, pertumbuhan dan perkembanagn proses kehidupan manusia, termasuk kegiatan pendidikan. Lingkungan hidup manusia dapat dibedakan menjadi lingkungan alam dan lingkungan sosial. Lingkungan alam adalah segala sesuatu atau benda diluar manusia yang berada di alam dunia ini, seperti batu, rumah, tumbuh – tumbuhan, hewan, iklim, siang dan malam,dsb. Lngkungan sosial adalah semua manusia atau orang lain yang berinteraksi dengan diri kita baik langsung maupun tidak langsung yang salinh mempengaruhi antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Dalam interaksinya itu manusia mempengaruhi lingkungan dan sebaliknya manusia pun dipengaruhi lingkungan sekitarnya. Agar terjadi keseimbangan dan keselarasan dalam interaksinya dengan lingkungan manusia perlu melakukan penyesuaian (adaptasi).
Dilihat dari tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan Nampak bahwa ketiga jalur pendidikan tersebut menggambarkan adaya tiga jenis lingkungan tempat berlangsungnya pendidikan, yaitu pendidikan informal yang biasanya berlangsung pada lingkungan keluarga. Lingkungan pendidikan formal yang biasanya berlangsung dalam dunia persekolahan, dan lingkungan pendidikan non formal yang umumnya berlangsung di masyarakat diluar system persekolahan. Dalam system pendidikan nasional ketiga jenis lingkungan pendidikan tersebut bermuara pada sebuah tujuan nasional yakni “ dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur serta memungkinkan para warganya mengembangkan diri baik berkenaan dengan aspek jasmaninya maupun rohaniah berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar 1945 “
Ki hajar dewantara mengungkapkan jenis lingkungan pendidikan yang disebut tri pusat pendidikan yaitu alam keluarga, alam perguruan, dan alam pemuda. Berdasarkan tri pusat pendidikan itulah muncul konsep lingkungan pendidikan. Pedidikan yang terjadi dalam lingkungan keluarga berlangsung alamiah dan wajar, tidak ada aturan yang mengikat karena itu di sebut lingkungan pendidikan informal. Pendidikan yang terjadi dalam lingkungan sekolah adalah pendidikan yang dirancang sedemikian rupa secara terencana, dilaksanakan dengan berbagai aturan yang ketat, berjenjang, seleksi peserta didiknya ketat,seleksi pendidik (guru) juga ketat, da kegiatannya berlangsung secara berkeseinambungan, sehingga disebut lingkungan pendidikan formal.pendidikan yang berlangsung di masyarakat diprogramkam dalam aturan –aturan yang fleksibel dan lebih longgar dibandingkan dengan pendidikan sekolah, tidak selalu disyaratkan berjenjang dan berkesinambungan, sehingga disebut lingkungan pendidikan nonformal. Dalam Undang –undang no 20 tahun 2003 bahwa ketiga jalur pendidikan tersebut berfungsi sebagai wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan pendidikan.

Pengertian  Lingkungan Pendidikan
Menurut Sartain (ahli psikologi Amerika), yang dimaksud lingkungan meliputi kondisi dan alam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes.
Meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab terhadap kedewasaan anak didik, namun merupakan faktor yang sangat menentukan yaitu pengaruhnya yang sangat besar terhadap anak didik, sebab bagaimanapun anak tinggal adlam satu lingkungan yang disadari atau tidak pasti akan mempengaruhi anak. Pada dasarnya lingkungan mencakup lingkungan fisik, lingkungan budaya, dan lingkungan sosial.
Lingkungan sekitar yang dengan sengaja digunakan sebagai alat dalam proses pendidikan(pakaian, keadaan rumah, alat permainan, buku-buku, alat peraga, dll) dinamakan lingkungan pendidikan.

Aliran-aliran Dalam Pendidikan


Pada setiap aliran pendidikan memiliki pandangan yang berbeda dalam memandang perkembangan manusia. Hal ini berdasarkan atas faktor-faktor dominan yang dijadikan sebagai dasar pijakan bagi perkembangan manusia. Untuk memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai hal itu, maka berikut ini disajikan berbagai aliran dan gerakan-gerakan baru dalam pendidikan.

1.Aliran Progresivisme
Aliran Progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita, terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagunganya. progresivisme dinamakan instumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup untuk kesejasteraan , untuk mengembangkan kepribadian manusia. dinamakan eksperimentalisme, karena aliran tersebut menyadari dan mempraktekan suatu teori. progresivisme dinamakan environmentalisme karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian.
tokoh-tokoh aliran Progresivisme.
1. William James (11 Januari 1842-26 Agustus 1910)
2. John Dewey (1859-1952)
3.hans Vaihinger (1852-1933)
4. Georges Santayana
Aliran filsafat progresivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan pada abad ke-20, dimana telah meletakan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik . anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berfikir ,guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya, tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain, oleh karena itu filsafat progresivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. sebab pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi - pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.
Adapun filsafat progresif memendang tentang kebudayaan bahea budaya sebagai hasil budi manusiayang tidak beku, melainkan selalu berkembang dan berunah. maka pendidikan sebagai usaha manusia yang merupakan refleksi dari kebudayaan itu haruslah sejiwa dengan kebudayaan itu.
untuk itu pendidikan sebagi alat untuk memproses dan dan mengkonstruksi kebudayaan baru haruslah dapat menciptakan situasi yang edukatif yang pada akhirnya akan dapat memberikan warna dan corak dari output (keluaran) yang dihasilkan, sehingga keluaran yang dihasilkan (anak didik) adalah manusia-manusia yang berkualitas unggul, berko,petitif, dan kreatifsanggup menjawab tantangan zamanya. untuk itu sangat diperlukan kurikulum yang berpusat pada pengalaman , dimana apa yang telah diperoleh anak didik selama disekolah akan dapat diterapkan dalam kehidupan nyatanya. dengan metode pendidikan "belajar sambil berbuat" (Learning By Doing) dan pemecahan masalah (problem Solving) dengan langkah-langkah menghadapi problem, mengajukan hipotesa.
2. Aliran Esensialisme.
Esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal perabadan manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan Progresivisme. perbedaanya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, dimana serta terbuka untuk perubahan , toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu, essensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai kejelasan dan tahan lama yang memberikan kesetabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Idealisme dan realisme adalah filsafat yang membentuk corak Esen sial , akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya masing-masing yang disebu Essensialisme, karena timbul pada zaman itu, essensialisme adalah konsep meletakan sebagian ciri alam pikir modern, Essensialisme pertam-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. maka disusunlah konsep sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman.
Tokoh-tokoh Aliran esensialisme.
1. George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831)
2. George Santayana

3. Aliran Perenialisme
Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh, Pernialisme berasl dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu . perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif, perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. jalan yang ditempuh oleh kaum perenialisme adalah dengan jalan mundur kebelakang, dengan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh. dalam pendidikan kaum perenialisme perpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta membahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat dari pada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam prilaku pendidikan. Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatianya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. perenialisme memnadang pendidikan sebagi jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal.
perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman sekarang. sikap ini bukanlah nostalgia (rindu akan hal-hal yang sudah lampau semata-mata) tetapi telah berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut berguna bagi bad sekarang, jadi siakp kembali kemasa lapau itu merupakan konsep bagi perenialisme dimana pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang ini.
Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental, karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada masa lampau, berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang seperti : bahasa dan sastra, sejarah, filsafat, politik, matamatika dan ilmu pengetahuan alam dan lain-lain, telah banyak yang mampu memberikan ilmunisasi zaman yang sudah lampau.
Dengan mengetahui tulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut, yang sesuai denga bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yaitu :
1. Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lampau yang telah dipikirkan oleh orang0orang besar.
2. Mereka memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karya tokoil tersebut untuk diri sendiri dan sebagi bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang.

4. Aliran Konstruktivisme
Lebih dua dasa warsa terakhir ini , dunia pendidikan mendapat sumbangan pemikiran dari teori kontruktivisme sehingga banyak negara mengadakan perubahan secara mendasar terhadap sistem dan praktik pendidikan mereka bahkan kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pun tak luput dari pengaruh teori ini. Paul Suparno dalam "Filsafat Konstuktivitas dalam pendidikan " mencoba mengurai implikasi filsafat konstruktivisme dalam pendidikan.
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri (Von Glaserfeld) . pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut.
Jean Piaget adalah Psikolog pertama yang menggunkan filsafat konstruktivisme, sedangkan teori pengetahuanya dikenal dengan teori adaptasi kognitif, sama halnya dengan setiap organisme harus beradaptasi secara fisik dengan dengan lingkungan untuk dapat bertahan hidup , demikian juga struktur pemikiran manusia, manusia bertentangan dengan tantangan , pengalaman, gejala baru, dan persoalan yang harus ditanggapinya secara kognitif (mental). untuk itu manusia harus mengembangkan skema pikiran lebih umum atau rinci, atau perlu perubahan menjawab dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman tersebut. dengan cara itu, pengetahuan seseorang terbentuk dan selalu berkembang. proses tersebut meliputi :

1. Skema adalah : struktur kognitif yang denganya seseorang beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental dalam interaksinya dengan lingkungan.

2. Asimilasi adalah proses kognitif perubahan skema yang tetap mempertahankan konsep awalnya, hanya menambah atau merinsi.


3. Akomodasi adalah proses pembentukan skema atau karena konsep awal sudah tidak cocok lagi.

4. Equilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya (skemanya).
Kontruktivisme bisa dijadikan alat refleksi kritis bagi para penyusun kurikulum . pengambil kebijakan, dan pendidi untuk membuat pembaruan sistem dan praktik pendidikan kita sehingga perubahan-perubahab yang ada bukan sekedar di permukaan namun menukik ke Roh pendidikan itu sendiri.

5.  Aliran Empirisme
Aliran ini dimotori oleh seorang filosof berkebangsaan inggris yang raionalis bernama John Locke (1632-1704). Aliran ini bertolak dari Lockean tradition yang lebih mengutamakan perkembangan manusia dari sisi empirikyang secara eksternal dapat diamati dan mengabaikan pembawaan sebagai sisi internal manusia (Umar Tirtarahardja,2000:194). Secara etimologis empirisme berasal dari kata empiri yang berarti pengalaman. Pokok pikiran yang dikemukakan oleh aliran ini menyatakan bahwa pwngalaman adalah sumber pengetahuan, sedangkan pembawaan yang berupa bakat tidak diakuinya.
Menurut aliran empirisme bahwa pada saat manusia dilahirkan sesungguhnya dalam keadaan kosong bagaikan “tabula rasa” yaitu sebuah meja berlapis lilin yang tidak dapat ditulis apapun di atasnya. Sehingga pendidikan memiliki peran yang sangat penting bahkan dapat menentukan keberadaan anak. Pendidikan dikatakan “Maha Kuasa” artinya Pendidikan memiliki kekuasaan dalam menentukan nasib anak. John Locke menganjurkan agar pendidikan disekolah dilaksanakan berdasarkan atas kemampuan rasio dan bukan perasaan. Aliran ini meyakini bahwa dengan memberikan pengalaman melalui didikan tertentu kepada anak, maka akan terwujudlah apa yang diinginkan. Sementara itu pembawaan yang berupa kemampuan dasar yang dibawa seseorang sejak lahir diabaikan sama sekali. Penganut aliran ini masih berkeyakinan bahwa manusia dipandang sebagai makhluk yang dapat dimanipulasi karena keberadaannya yang pasif.


6.  Aliran Nativisme
Menurut Zahara Idris(1992:6) nativisme berasal dari bahasa latin nativus berarti terlahir. Seseorang berkembang berdasarkan pada apa yang dibawanya sejak lahir. Adapun inti ajarannya adalah bahwa perkembangan seseorang merupakan produk dari faktor pembawaanyang berupa bakat. Aliran ini dikenal juga dengan aliran pesimistik karena pandangannya yang menyatakan, bahwa orang yang “berbakat tidak baik” akan tetap tidak baik, sehingga tidak perlu dididik untuk menjadi baik, Begitu pula sebaliknya. Namun demikian aliran ini berpendapat bahwa pendidikan sama sekali tidak berpengaruh terhadap perkembangan seseorang, sehingga bila pendidikan yang diberikan tidak sesuai dengan pembawaan seseorang maka tidak akan ada gunanya.

7.  Aliran Naturalisme
Pandangan yang ada persamaannya dengan nativisme adalah aliran naturalisme (Umar Tirtarahardja, 2000:197).Lahirnya aliran ini dipelopori oleh J.J Rousseau, yang mengamati pendidikan. Ditulis dalam bukunya yang berjudul “Emile” menyatakan bahwa anak yang dilahirkan pada dasarnya dalam keadaan baik. Anak menjadi rusak atau tidak baik karena campur tangan manusia (masyarakat). Aliran ini berpendapat bahwa pendidikan hanya memiliki kewajiban memberi kesempatan kepada anak untuk tumbuh dengan sendirinya. Pendidikan sebaiknya diserahkan kepada alam. Oleh karena itu ciri utama aliran ini adalah bahwa dalam mendidik seorang anak hendaknya dikembalikan kepada alam agar penbawaan yang baik tersebut tidak dirusak oleh pendidik.

8.  Aliran Konvergensi
Aliran ini dipelopori oleh William Stern (1871-1938). Aliran ini semakin dikenal setelah kedua aliran sebelumnya yakni empirisme dan nativisme tidak lagi banyak memiliki pengikut. Inti ajaran konvergensi adalah bahwa bakat, pembawaan dan lingkungan atau pengalamanlah yang menentukan pembentukan pribadi seseorang. Sehubungan dengan hal itu teori. Konvergensi yang dikemukakan William Stern berpendapat bahwa:
Pendidikan memiliki kemungkinan untuk dilaksanakan, dalam arti dijadikan penolong kepada anak untuk mengembangkan potensi.
Yang membatasi hasil pendidikan anak adalah pembawaan dan lingkungannya.
Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, aliran konvergensi dipandang lebih realistis, sehingga banyak diikuti oleh para pakar pendidikan.

Kamis, 19 April 2012

Cerita Rakyat Sumatera Selatan, Si Kulup Yang Durhaka


             Cerita ini berasal dari belitung. Dahulu ada sebuah keluarga masih bertempat tinggal di dekat sungai Cerucuk. Kehidupan keluarga tersebut sangatlah miskin. Mereka hidup dari mencari dedaunan maupun buah-buahan ynag ada di dalam hutan. Hasil pencahariannya dijual kepasar.
            Keluarga tersebut mempunyai seorang anak lelaki bernama Si Kulup. Si Kulup senang membantu orang tuanya mencari nafkah. Mereka saling membantu. Meskipun mereka hidup berkekurangan namun tidak pernah merasa menderita.
            Suatu ketika ayah Si Kulup pergi ke hutan untuk mencari rebung yang masih muda. Rebung itu dijadikan sayur untuk makan bertiga. Saat menebang rebung, terlihatlah oleh ayah Si Kulup sebatang tongkat berada pada rumpun bambu. Pak Kulup, demikian orang menyebut ayah Si Kulup mengamati tongkat tersebut. Semula tongkat itu akan dibuang, tetapi setelah diperhatikan betul dan dibersihkan ternyata tongkat itu bertabur intan permata dan merah delima.
Ia juga tetap membawa rebung pulang  karena dari situlah mata pencahariannya sehari-hyari. Pak Kulup dengan perasaan was-was, takut, membawa tongkat pulang kerumah. Sesampai di rumah, di dapatinya Si Kulup sedang tiduran. Istrinya bereda di rumah tetangga.
Si Kulup disuruh memanggil ibunya, tetapi pemuda itu tak mau. Ia baru saja pulang mendorong kereta. Badan masih lelah. Ia tidak tahu bahwa ayahnya membawa tongkat bertabur intan permata.
Pak Kulup pergi menyusul istrinya yang sedanga bertandang di rumah tetangga. Pak Kulup dan Mak Kulup terlihat asyik bercerita menuju rumahnya. Sampai di rumah, mereka berunding tentang tongkat yang ditemukan tadi siang.
Pak Kulup mengusulkan agar tongkat itu disimpan saja. Mungkin nanti ada yang mencarinya. Mak Kulup menjawab, “ mau disimpan dimana ? kita tidak punya lemari. “
KemudianSi Kulup pun usul, “ lebih baik dijual saja, supaya kita tidak repot menyimpannya.”
Akhirnya mereka bertiga sepakat untuk menjual tongkat temuannya. Si Kulup ditugasi untuk menjual tonkat tersebut ke negeri lain. Si Kulup pergi meninggalkan desanya. Tidak lama kemudian, tongkat itu pun terjual dengan harga yang sangat mahal.
Setelah Si Kulup menjadi kaya, ia tidak mau pulang kerumah orang tuanya. Ia tetap tinggal di rantauan. Karean ia selalu berkawan dengan anak-anak saudagar kaya, maka ia pun diambil menantu oleh saudagazr paling kaya di negeri itu.
Si Kulup sudah beristri. Meeka hidup serba berlebih. Si Kulup sudah lupa akan kedua orang tuanya yang menyuruh menjual tongkat.
Setelah bertahun-tahun mereka hidup di rantau, oleh mertuanya Si Kulup disuruh berniaga ke negeri lain bersama isterinya. Si Kulup lalu membeli sebuah kapal besar. Ia juga menyiapkan anak buahnya yang diajak serta berlayar. Mereka berdua minta doa restu kepada orang tuanya agar selamat dalam perjalanan dan berhasil mengembangkan dagangannya.
Mualilah mereka berlayar meninggalkan daerah perantauannya. Saat itu Si Kulup teringat kembali akan kampung halamannya. Ketika sampai di muara sungai Cerucuk mereka berlabuh. Suasana kapal sangat ramai karena suara dari binatang perbekalannya, seperti : ayam , itik angsa dan burung.
Kedatangan Si Kulup di desanya terdengar oleh kedua orang tuanya, terlebih-lebih emaknya. Eamknya menyiapkan makanan kesukaan Si Kulup seperti l; ketupat, rebus belut, panggang dan sebagainya. Kedua orang tuany adatang ke kapal sambil membawa makanan kesukaan anaknya.
Sesampai di kapal, kedua orang tua itu mencari anaknya Si Kulup. Si Kulup sudah menjadi saudagar kaya melihat kedua orang tuanya merasa malu. Maka diusirnyalah kedua orang tuanya. Buah tangan yang dibawa emaknya pun dibuang.
Saudagar kaya itu marah sambil beruocap, “ pergi ! lekas pergi! Aku tak mau punya orang tua seperti kalian. Jangan kotori temapatku ini.tidak tahu malu, mengaku diriku sebagai anakmu. Apa mungkin aku mempunyai orang tua miskin seperti kau ? enyahlah kau dari sini !”
Pak Kulup dan isterinya merasa terhina sekali. Mereka cepat-cepat meninggalkan kapal. Putuslah harapannya bertemu dan mendekap anak untuk melepas rasa rindu. Yan mereka terima hanyalah umpatan caci-maki dari anak akandungnya sendiri.
Setibanya di darat, emak Si Kulup tidak dapat menahan amarahnya. Ia benar-benar terpukul hatinya dengan peristiwa tadi. Ia berucap, “ kalau saudagar itu benar-benar anakku Si Kulup dan kini tidak mau mengaku kami sebagai oran tuanya, mudah-mudahan kapal besar itu karam “
Selesai berucap demikian itu, ayah dan emak Si Kulup pulang kerumahnya dengan rasa kecewa. Tidak berapa lama terjadi suatu keanehan yang luar biasa, tiba-tiba gelombang laut sangat tinggi menerjang kapal saudagar kaya. Mula-mula kapal itu oleng ke kanan dan ke kiri, menimbulkan ketakutan luar biasa pada penumpangnya. Akhirnya kapal itu terbalik, semua penumpangnya tewas seketika.
Beberapa hari kemudian di tempat karamnya kapal besar itu muncullah sebuah pulau yang menyerupai kapal. Pada waktu-waktu tertentu terdengar suara binatan bawaan saudagar kaya. Maka hingga sekarang pulau itu dinamakan Pulau Kapal.



Unsur-Unsur Intrinsik Si Kulup
  1. Tema               : anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.
  2. Amanat           : janganlah sesekali berlaku durhaka kepada kedua orang tua sebab                                  kita akan mendapat hukuman yang setimpal karenanya, dan jangan pernah lupa diri karena bergelimpangan harta.
  3. Latar / setting   : sebuah desa dekat sungai Cerucuk, Belitung, Sumatera Selatan.
  4. Alur                 : maju.
  5. Pusat pengisahan : orang ketiga serba tahu.
  6. Penokohan dan perwatakan
  • Pak Kulup       : seorang ayah pekerja keras.
  • Mak Kulup       : seorang ibu yang menyayangi anaknya.
  • Si Kulup          : seorang anak yang durhaka dan buta matanya karena kekayaan. 

Cerita Rakyat Aceh Sikintan Anak Durhaka


           Dahulu, disebuah kampung hidup satu keluarga miskin. Keluarga itu memiliki seorang anak bernama Sikintan. Pekerjaan ayah Sikintan mencari kayu. Kemudian kayu itu dijual kepasar. Uang penjualan kayu itu digunakan untuk membeli keperluan sehari-hari.
            Pada suatu malam, ayah Sikintan itu bermimpi. Dalam mimpinya ia didatangi seorang tua. Orang tua itu menunjukkan, di hulu sungai ada sebuah rumpun bambu besar. Di tengah rumpun bambu itu ada tongkat intan.
“ carilah karena itulah anugerah untukmu “, ujar orang tua itu.
            Keesokan harinya ayah Sikintan mengajak anaknya pergi ke hulu sungai. Sikintan bertanya pada ayahnya, ada apa di hulu sungai. Namun, ayahnya mengatakan, hanya jalan-jalan saja.
            Mereka berjalan kehulu menyusur sungai. Tak berpa lama kemudian, mereka tiba diserumpun bambu. Ayah Sikintan mendekat ke rumpun bambu itu.
“ ayah sedang mencari apa ?”
            ayahnya tak menjawab, malah sibuk mencari-cari. Tak berapa lama, wajahny berbinar, ia melihat tongkat intan. Cepat-cepat diambilnya tongkat berharga itu dan segera dibawanya pulang.
            Kemudian ayah Sikintan menceritakan mimpi tentang tongkat itu. Ketika tiba di rumah, ibu Sikintan heran melihat suaminya memiliki tongkat intan.
            Mereka bertiga mufakat akan menjual tongkat intan itu. Tapi kemana akan dijual ? bila di daerah itu dikjual, orang-orang tentu bisa menduga bahwa barang itu dicuri. Bukankah hidup keluarga itu miskin.
            Akhirnya orang tua Sikintan meminta Sikintan menjual tongkat itu ke negeri lain. Sikintan pergi dengan perahu. Sesaat sebelum berangkat, ayah Sikintan berpesan, “ kalau kamu sudah menjual tongkat intan ini dan mendapat uang banyak, jangan lupa pada kami. Ingat hidup ayah ibumu miskin.”
“ percayalah ayah. Anakda akan selalu mengingat ayah dan ibu, “ ujar Sikintan.
            Dalam perjalanan, Sikintan selalu membantu pemilik perahu. Ketika sampai di tujuan, Sikintan dibebaskan dari ongkos. Bahkan, pemilik perahu memberikan sedikit uang.
            Hati Sikintan merasa senang. Tiba di negeri itu, ia mencoba mencari induk semang. Beberapa hari ia tinggal di rumah induk semangnya. Suatu hari, ia pergi ke pasar menjual tongkat intan yang dibawanya. Beberapa toko yang ditawarinya tak mampu membeli tongkat intan yang mahal itu. Untunglah ada ynag menunjukkan toko paling besar di negeri itu.
“ mungkin toko itu mau membeli barangmu ini. “
            Sikintan membawa tongkat intan ke toko besar itu. Lalu menawarkan pada saudagar pemilik toko. Sikintan menceritakan, ia sudah menawarkan kepada beberapa toko, tapi tak sanggup membelinya. Rupanya saudagar itu merasa malu. Lalu tongkat intan itu dibelinya walaupun dengan harga yang sangat mahal.
            Setelah mendapat uang banyak, Sikintan muali berdagang. Ia membuk toko. Karena mempunyai modal besar, uasaha Sikintan tampak cepat berkembang. Ia menjadi orang kaya raya di negeri itu. Ia pun telah membeli kapal. Sebagai seorang saudagar kaya, Sikintan mempersunting istri yang cantik jelita. Hidup dalam kemewahan, ia lupa ayah dan ibunya yang miskin.
            Suatu malam Sikintan bermpimpi. Ayah dan ibunya datang menemuinya dan berkata, “ Sikintan, kamu sudah kaya raya. Mengapa lupa kepada ayah dan ibumu ? Datanglah, akami menunggumu “
            Setrlah bermimpi itu, Sikintan sadar kan keadaan ayah dan ibunya yang hidup miskin. Lalu diceriatakannya kepada istrinya. Mereka mufakat akan menjenguk ayah dan ibu Sikintan.
            Denganmenggunakan kapal sendiri, Sikintan bersama istrinya serta rombongan menuju kampung ayah dan ibunya. Ketika tiba di pelabuhan, Sikintan mengutus oarang untk memberi tahu kedatangannya kepada ayah dan ibunya, agar orang tuanya datang ke kapal. Oarang itu segera memberi kabar. Dan mengatakan bahwa Sikintan sudah kaya raya.
            Mendengar berita itu, ayah Sikintan meuju ke kapal ingin bertemu dengan buah hatinya. Di tepi kapal, ia bertanya diman anaknya Sikintan. Petugas memberitahu kepada Sikintan bahwa yahnya sudah datang. Ketika melihat ayahnya sudah tua dengan pakaian kuamal dan compang-caming pula, ia merasa malu. Malu kepada istri dan rombongannya. Sikintan tidak mengakui bahwa orang tua yang ada di hadapannya adalah orang tuanya.
‘ bukan, dia bukan ayahku, suruh orang tua itu pergi “
            dengan hati yang sedih, ayah Sikintan pulang. Di rumah, orang tua it menangis. Istrinya heran melihat suaminya tiba-tiba menangis.
“ mengapa abang menangis ?”
“ Sikintan tak mengakui aku lagi sebagai ayahnya. Coba kau kesana. Mungkin kau diakui sebagai ibunya “
            ibu Sikintan berangkat ke kapal ingin menemui anakanya. Di tepi kapal, keapada oarang, ia ia memberi tahu ingin bertemu dengan anaknya Sikintan. Ketika Sikintan melihat ibunya tua bangka dengan pakaian kumal pula, ia tidak mau mengakui orang itu ibunya. Lalu pulanglah ibu Sikintan dengan hati sedih. Tiba di rumah, ia bertangis-tangisan dengan suaminya.
            Sikintan dan rombongan pun bersama kapalnya berangkat. Tak berapa jauh meninggalkan pelabuhan, datanglah hujan dan badai. Kapal Sikintan taka dapat berlayar. Kapten kapal berkata pada Sikintan, ia telah durhaka kepada ibunya.
“ kembali ke pelabuhan. Disana nanti saya akan mengakui kedua orang tua itu sebagai orang tua saya,” kata Sikintan kepada kapten kapal.
            Tiba di pelabuhan, diutus orang untuk menjemput kedua orang tua Sikintan. Sikintan kana minta ampun. Ketika melihat kedua orang tuanya yang sangat miskin itu, Sikintan masih juga merasa malu. Sikintan mersa malu mengakui kedua orang tua itu adalah orang tuanya.
            Kedua orang tua yang datang dengan gembira karena anaknya akan minta ampun sekarang merasa sedih kembali. Sikintan belum mengakui mereka adalah ayah dan ibunya.
“ kalau Sikintan belum juga mengakui kami orang tuanya, ya sudahlah, ‘ setelah berkata begitu, kedua orang tua Sikintan poulang dengan hati yang pedih.
            Tak berapa lama kemudian, kapal Sikintan berangkat. Kedua orang tuanya berdoa kepada Tuhan, sambil berkata, “ ya Allah, kami tidak diakui sebagai orang tua oleh anak kami. Berilah dia hukuman yang Engkau kehendaki. “
            Usai oarang tua itu berdoa, datanglah angin kencang. Turun badai topan menenggelamkan kapal Sikintan. Beberapa minggu setelah kejadian, kapal itu tampak menjadi pulau. Di pulau itu hiduplah seekor monyet putih. Oarang berkata bahwa monyet itu adalah Sikintan yang durhaka kepada orang tuanya. Beberapa bulan kemudian, monyet itu tak nampak lagi, mungkin meninggal dunia dengan seribu penyesalan. Sampai saat in, pulau itu dinamakan Pulau Sikintan.

Unsur-Unsur Intrinsik Sikintan Anak Durhaka
  1. Tema                      : anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.
  2. Amanat            : janganlah sesekali berlaku durhaka kepada kedua orang tua sebab kita akan mendapat          hukuman yang setimpal karenanya, dan jangan pernah lupa diri karena bergelimpangan harta.
  3. Latar / setting          : disebuah perkampungan di Aceh.
  4. Alur                        : maju.
  5. Pusat pengisahan     : orang ketiga serba tahu.
  6. Penokohan dan perwatakan

  • Ayah Sikintan       : seorang ayah yang baik dan pekerja keras demi kelangsungan hidup keluarganya
  • Ibu Sikintan          : seorang ibu yang baik dan menyayangi anaknya.
  • Sikintan                 : anak yang melupakan dan durhaka kepada oarang tua. 

Sastra Bandingan


Sastra bandingan adalah sebuah studi teks across cultural. Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak memperhatikan hubungan sastra menurut aspek dan tempat. Berdasarkan waktu, sastra bandingan dapat membandingakan dua atau lebih karya sastra dari periode yang berbeda. Sedangkan konteks tempat akan mengikat sastra bandingan menuru wilayah geografis sastra. Konsep ini mempresentasikan bahwa sastra bandingan memang cukup luas.
Benedecto Crose ( Giffod, 1995; I ), mengatakan bahwa studi sastra bandingan adalah kajian yang berupa ekslporasi perubahan, pergantian, pengembangan, dan perbedaan timbal balik diantara dua karya sastra atau lebih.

Tujuan sastra bandingan antara lain:
  1. Untuk mencari pengaruh suatu karya sastra terhadap karya sastra lain dan atau pengaruh bidang lain serta sebaliknya dalam dunia sastra.
  2. Untuk menentukan mana karya mana karya sastra yang benar-benar orisinal dan mana yang bukan dalam lingkup perjalanan sastra.
  3. Untuk menghilangkan kesan bahwa karya sastra nasional tertentu lebih hebat dibanding karya sastra nasional lain.
  4. Untuk mencari keragaman budaya yang terpantul dalam karya sastra satu dengan yang lainnya.
  5. Unituk memperkokoh keuniversalan konsep-konsep keindahan universal dalam sastra.
  6. Untuk menialai mutu karya-karya dari negara-negara dan keindahan karya sastra.

Tentang Penyair PH. Joko pinurbo


          Penyair PH. Joko pinurbo lahir 11 Mei 1962 di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Pada 1981 tamat dari SMA Seminari Mertoyudan, Magelang. Pada 1987 lulus dari IKIP ( sekarang Universitas ) Sanata Dharma, Yogyakarta. Kemudian mengajar di almamaternya sambil membantu di majalah Basis. Sejak 1992 bergabung dengan kelompok Gramedia. Sealin menulis dan menyunting naskah, mengajar dan berceramah, ia ikut mengelola majalah Mata Baca dan jurnal Puisi.
            Pinurbo gemar megarang puisi sejak di Sekolah Menengah Atas. Puisi-puisinya terbit di berbagai surat kabar, majalah/jurnal, dan antologi/buku. Sering diundang baca puisi di berbagai temapat, termasuk di beberapa forum/festival sastra antar bangsa. Sampai sekarang penyair yang punya hobi merokok dan menonton siaran sepak boal ini bermukim di Yogyakarta.
            Buku kumpulan puisinya yang suadah terbit adalah Selamat Malam ( 1986, stensilan ), Parade Kambing ( 1986: stensilan ), dimuat antologi 32 penyair Yogya Tugu
( 1986 ), Celana ( 1999 ), Di Bawah Kibaran Sarung ( 2001 ), Pacar kecilku ( 2002 ), Trouser Doll ( versi bahasa Inggris Celana, 2002 ), dan Telepon Genggam ( 2003 ). Penghargaan sastra pernah ia terima : Penghargaan Buku Puisi Pusat kesenian Jakarta 1998-2000, Hadiah Sastra Lontar 2001, Sih Award 2001, Penghargaan Sastra Pusat Bahasa 2002. ia juga masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award 2001, 2002, 2003
( Joko Pinurbo, 2003 ).
            Karya puisi Pinurbo memiliki keunikan dan kesegaran tersendiri. Puisi-puisinya banyak menceritakan hal ihwal kehidupan sehari-hari, dari hal yang wajar untuk dikemukakan sampai kepada hal yang tabu ( menurut masyarakat ), semuanya dikupas, diolah, dan dipoles sehinggah menajdi suatu karya yang indah dan mudah untuk dibaca. Ini dapat dilihat dalam buku kumpulan puisinya “ Celana “ dan “ Di Bawah Kibaran Sarung “
            Puisi Jokpin yang memakai imaji celana menjadi pembukaan (pengantar) dari pencapaian estetika mutakhir. ... Jokpin pada akhirnya identik dengan kekuatan humor yang tragis dengan intensitas dan konsistensi yang kuat dan memberi pengaruh besar dalam perpuisian Indonesia mutakhir. … Legitimasi terhadap Joko Pinurbo menunjukkan bahwa ada pembaharuan dalam tradisi besar puisi lirik dan keinginan untuk menempuh jalan lain yang berbeda dengan yang sudah ditempuh oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri dan Afrizal Malna. … Ikhtiar untuk menjauh dari lirik dan mengon-struksi identitas penyair yang dilakukan Jokpin ditempuh dengan pilihan-pilihan dan keputusan dalam kegelisahan. … Kegelisahan itu kemungkinan terkait dengan teknik dan gaya penulisan. Keputusan dan pilihan besar akhirnya menjadikan Jokpin memiliki identitas berbeda dengan penyair lain dalam keunikan dan kekuatan yang mengagumkan.
            Dilihat dari puisi-puisinya terlihat bahwa dia banyak mengikuti gaya dan bentuk puisi Sapardi Djoko Damono. Ini diakuinya, dengan mengatakan bahwa dari sekian banyak penyair Indonesia, Sapardilah yang menjadi idola dan panutannya, karya Sapardi yang menjadi idoalnya, juga sering memberikan tanggapan, kritikan, dan masukan yang penting untukkarya PH. Joko pinurbo, salahsatunya sebagai berikut :
            “ Joko pinurbo penyair ini menulis sajak-sajak yang sebagian merupakan tanggapan terhadap segala sesuatu yang terjadi d sekeliling kita. Usahanya itu dialakukan dengan menggunakan hal-hal sehari-hari yang bagi kebanyakan penyair mungkin dianggap tiadak perlu sebagai sarana puitik. Penggunaan hal-hal sehari-hari tentu saja tidak sepenuhnya baru dalam perpuisian kita, tetapi Joko Pinurbo menyatukannya dengan renungan mengenai hakikat hidup. Usaha ini tentu tiadak mudah, iulah antara lain sebabnya sajak-sajaknya juga tidak “ mudah “. Berbeda dengan kecendrungan puisi lirik umumnya, ia menggunakan anasir naratif  untuk menyampaikan penghayatannya itu, namun sjak-sajak tidak kehilangan personanya sebagai dunia rekaan yang prismatis “
( Sapardi Djoko Damono, catatan naskah Di Bawah Kibaran Sarung, 2001 ).