Jumat, 30 November 2012

Contoh Essai Pertunjukan: Coro - Putu Wijaya

Terjadi situasi genting, ketika manusia tidak lagi manusiawi. Putu Wijaya, lewat Coro-nya ingin mengangkat suatu realita bahwa manusia yang satu dengan kekuasaan yang lebih tinggi menganggap manusia yang lain dengan posisi yang rendah adalah hal yang hina, perlu dimusnahkan, dan tidak perlu didengarkan pendapatnya. Bahkan jika ia tidak memusnahkan manusia yang lebih rendah posisinya, maka ia telah melakukan kesalahan yang besar.

Diperankan oleh Agus Susilo yang merupakan pemain teater dengan jam terbang cukup tinggi, penonton sebenarnya dapat dengan sendirinya menentukan penafsiran mengenai pementasan teater monolog karya Putu Wijaya ini. Sehingga pembacaan sinopsis cerita di awal pementasan terkesan membunuh kreativitas penonton untuk menafsirkan hal atau pemikiran lain mengenai isi cerita yang akan ditampilkan. 

Dipentaskan pada Open Stage FBS – UNIMED Jumat, 26 November 2010 pada pukul 15.00, naskah monolog Coro yang tersaji dalam lima halaman kemudian dibawakan oleh Agus Susilo dengan waktu sekitar setengah jam. 

Coro bercerita mengenai sosok mahluk manusia yang menyimpan kebencian dan rasa jijik yang amat dalam pada sesosok serangga yang dikenal orang dengan sebutan coro. Cerita ini dikemas dengan cukup sederhana oleh Putu Wijaya selaku penulis nakah. Terkesan biasa bagi sebagian orang karena menceritakan hal ihwal yang biasa kita temui pada kehidupan sehari-hari. Orang yang membenci sesuatu karena sesuatu tersebut dianggap kotor, rendah, sumber penyakit, dan tak berguna. Tanpa pengecualian, manusia yang dikisahkan dalam cerita akan membunuh coro yang ditemuinya tanpa pikir panjang. Hingga pada suatu hari, sang manusia ketika pulang ke rumah menemukan coro di dalam rumahnya. Dia marah bukan main. Dia lantas mengejar coro dan hendak membinasakannya hingga terjadi pertikaian yang berwujud dialog antara manusia dan coro. 

Penyebab Kesalahan Berbahasa

Interferensi (interlanguage) 
    Interferensi adalah kesalahan berbahasa karena pengaruh satu bahasa terhadap bahasa yang lain. Interferensi terjadi pada seorang dwibahasawan, atau seseorang yang mengenal lebih dari satu bahasa di dalam kehidupan sehari-harinya. Adakalanya interferensi menjadi gejala umum dalam masyarakat satu bahasa sehingga tidak dipandang sebagai kesalahan lagi. Gejala sepertio ini sering disebut integrasi. 

Di Indonesia, tidak sedikit ditemukan pemakaian bahasa yang berciri interferensi ini, baik karena pengaruh bahasa daerah maupun bahasa asing, seperti: 


fikir

diketemukan 

ditamparin

Dia malas cari bukti itu. 

Bapaknya Ali sakit. 

Orang si Tagor sudah datang? 


Analisis Kesalahan Kalimat

    Kesalahan kalimat meliputi kesalahan urutan kata dan penghilangan fungtor kalimat. Perhatikanlah contoh-contoh kesalahan urutan kata dan kesalahan karena penghilangan fungtor kalimat di bawah ini. 

Kesalahan Urutan Kata 
(1) Di sekolah-sekolah sering kita mendengar lagu “Indonesia Raya”. 
(2) Diajarkan kepada mereka hal-hal baru mengenai dunia botani. 
(3) Bisa juga guru membiarkan murid-muridnya berkembang sendiri. 

Kesalahan karena Penghilangan Fungtor Kalimat 
a. Penghilangan Subjek 
(1) Memberikan rangsangan agar siswa dapat mengembangkan kreativitasnya. 
(2) Bila miskin, otomatis tidak dapat membangun secara serius. 
(3) Dalam hal yang demikian, memang sering menemui kesulitan yang susah diatasi. 

b. Penghilangan Predikat 
(1)Mereka sebagai pusat informasi bagi siswanya. 

c. Penghilangan Objek 
(1) Seorang guru harus mampu mengajar, mendidik, dan melatih. 
(2) Guru bukan hanya mengajari siswa, melainkan mendidik agar menjadi manusia siap pakai. 


Ranah Kesalahan Berbahasa

1. Analisis Kesalahan Fonologi 
    Kesalahan fonologi mencakup kesalahan pengucapan fonem dan penulisan huruf. Karena kaidah pengucapan belum dibakukan di dalam bahasa Indonesia, maka analisis kesalahan fonologi yang akan dibicarakan di sini hanya terbatas pada kesalahan penulisan atau pemakaian huruf. Berikut ini akan ditampilkan beberapa contoh kesalahan pemakaian atau penulisan huruf dalam bahasa Indonesia. 

(1) Adik bertanya, “kapan kita pulang ?” 

(2) Yang mahakuasa. 

(3) Dialah pemimpin idaman masarakat. 

(4) Siapakah Gubernur yang baru dilantik itu ? 

(5) IR. Anwar, DRS. Agus Basri, Abdul Saleh, SH. 

(6) Perbuatan itu bertentangan dengan UUD negara kita. 


1. Analisis Kesalahan Morfologi 
    Kesalahan morfologi meliputi kesalahan menggunakan afiks, kata ulang, menyusun kata majemuk, dan memilih kata. Perhatikanlah contoh-contoh di bawah ini. 

(1) Anak yang hilang itu diketemukan kemarin sore. 

(2) Puteri ulama terkenal itu disunting seorang pangeran Arab Saudi. 

(3) Data-data menunjukkan keterlibatannya. 

(4) Sejak kemarin, dia tidak mengacuhkan saya. 

(5) Dia berada di ruangan depan.

Kamis, 22 November 2012

Jenis Karangan Deskripsi

Karangan deskripsi ini terbagi atas dua jenis yaitu deskripsi ekspositoris dan deskripsi artistik/impresionistik. 

1. Deskripsi Ekspositoris 
   Deskripsi ini bertujuan menjelaskan sesuatu dengan perincian yang jelas sebagaimana adanya tanpa menekankan unsur impresi/kesan atau sugesti kepada pembaca. Bahasa yang digunakan adalah bahasa formal dan lugas. Karangan jenis ini berisi daftar detail sesuatu secara lengkap sehingga pembaca dengan penalarannya dapat memperoleh kesan keseluruhan tentang sesuatu. 

2. Deskripsi Artistik/ Impresionistik 
    Deskripsi ini bertujuan untuk mendapatkan tanggapan emosional pembaca pun kesan pembaca. Ciri khas deskripsi ini diantaranya ditentukan oleh macam kesan apa yang diinginkan penulisnya. Dalam hal ini kesan-kesan itu dapat diurutkan secara kronologis, lokasi, klimaks, dan antiklimaks. Selain itu pemilihan kata secara tepat sangat penting. 
    Perincian yang jelas dengan menekan unsur sugesti dan menggunakan impresi atau kesan penulis terhadap objek yang digambarkan sehingga pembaca seolah-olah berkenalan langsung dengan objek yang disampaikan ini serta bahasa yang digunakan itu sangat memikat dan pilihan kata yang menggugah perasaan, 

Berikut ini disajikan sebuah contoh deskripsi artistik/ Impresionisktik tentang suasana alam : 

BEKISAR MERAH 

Ahmad Tohari 

Unsur - unsur Pembentuk Karangan Deskripsi

    Unsur-unsur karangan deskripsi dalam hal ini artinya bagian-bagian yang membangun suatu karangan. Unsur-unsur inilah yang juga sekaligus menjadi patokan penilaian suatu karangan. Apabila karangan itu sempurna atau kurang sempurna. 

Unsur-unsur karangan tersebut dapat dilihat pada penjelasan berikut ini: 
1. Isi Gagasan 
   Dalam karangan deskripsi, isi merupakan aspek penilaian. Isi mencakup topik, sub topik dan urutan pengembangan topik adalah pembicaraan dalam keseluruhan karangan, sebuah topik dapat bersumber dari pengalaman, pengetahuan, imajinasi pendapat atau keyakinan. Sebuah karangan bisa menyajikan fakta, pendapat, sikap, tanggapan, imajinasi atau ramalan. 
   Sebuah karangan yang baik isinya harus memperlihatkan penyusunan topik, sub topik dan adanya urutan pengembangan yang cukup mendetail serta disusun dengan cermat dan logis dengan demikian susunan cerita menjadi teratur. 

2. Organisasi Kalimat (Koherensi dan Kohesi Isi) 
   Organisasi dalam karangan adalah pengolahan bahan, pengaturan pengembangannya. Organisasi isi yang baik harus memperlihatkan koherensi dan kohesi. Koherensi adalah memperlihatkan adanya hubungan yang logis atau suatu upaya membuat jalan pikiran dari yang satu ke yang lain berhubungan erat dan lancar serta menghasilkan kejelasan sehingga pembaca dapat mengikuti jalan pikiran sipenulis secara jelas dan dapat melihat kaitan satu sama lain serta kaitannya dengan ide pokok. 
   

Langkah - langkah Menulis Karangan Deskripsi

Ada pun langkah-langkah mengarang menurut Setiawan Djuharie (2001: 57), meliputi di bawah ini. 

1. Menentukan atau memilih tema atau topik karangan 
    Langkah paling awal dalam membuat suatu karangan adalah menentukan tema atau topik karangan. Tema diartikan pokok pikiran, sedangkan topik adalah pokok pembicaraan. Apabila dilihat dari sudut sebuah karangan yang telah selesai tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Dalam kenyataannya untuk menulis suautu karangan, penulis harus memilih suatu topik atau pokok pembicaraan. Dengan demikian, pada waktu menyusun sebuah tema untuk untuk sebuah karangan ada dua unsur yang paling dasar yaitu topik atau pokok pembicaraan dan tujuan yang hendak dicapai melalui topik tersebut. 
    Bagi pengarang pemula, penentuan topik tulisan merupakan sesuatu yang agak sulit dilakukan. Dalam menetapkan topik penulis harus menguasai betul kira-kira permasalahan apa yang akan ditulis. Jadi, agar topik benar-benar terwujud pilihlah topik yang benar-benar menarik perhatian. 

Hal ini sesuai dengan pendapat Gorys Keraf (1994: 111) bahwa; 
“Sebuah topik pertama-tama haruslah menarik perhatian penulis sendir. Topik yang menarik perhatian penulis akan memungkinkan pengarang berusaha terus menerus mencari data-data untuk memecahkan masalah yang dihadapinya, penulis akan didorong terus-menerus agar dapat menyelesaikan tulisan itu dengan sebaik-baiknya.”