Minggu, 04 November 2012

Pemakaian Tanda Hubung dan Tanda Pisah


A.    Tanda Hubung (-)
1.      Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar atau kata berimbuhan yang terpisah oleh pergantian baris.
Misalnya:

Walaupun demikian, masih banyak yang ti-dak mematuhi peraturan tersebut.
Industri tersebut dapat dikembangkan men-jadi industri padat karya.
2.      Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya:
Anak-anak, kupu-kupu, berulang-ulang, kemerah-merahan, mondar-mandir, sayur-mayur
3.      Tanda hubung menyambung huruf dari kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Misalnya:
p-a-n-i-t-i-a
17-08-1945
4.      Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan kata dengan kata berikutnya atau sebelumnya yang dimulai dengan huruf kapital, kata/huruf dengan angka, angka dengan kata/huruf.
Misalnya:
se-Indonesia, se-Jabodetabek, mem-PHK-kan, sinar-X, peringkat ke-2, S-1, tahun 50-an
5.      Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Misalnya:
di-smash, pen-tackle-an

B.     Tanda Pisah
1.      Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
Misalnya:

Pemakaian Tanda Titik Koma (;) dan Tanda Titik Dua (:)


A.    Tanda Titik Koma (;)
1.      Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya:
Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.
2.      Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
Misalnya:
Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk memasak di dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional.

B.     Tanda Titik Dua (:)
1.      Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya:
Ketua              : Moch. Achyar
Sekretaris        : Tati Suryati
Bendahara       : Noviana Pertiwi
2.      Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara surah dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Misalnya:
(i)           Tempo, I (34), 1971:7
(ii)         Surah Yasin:9
(iii)       Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.

Pemakaian Tanda Koma


1.      Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Misalnya:
Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.
2.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat serata berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.
Misalnya:
Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.
3.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:
Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
4.      Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
Misalnya:
Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
Dia lupa akan janjinya karena sibuk.
Dia tahu bahwa soal itu penting.
5.      Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula,meskipun begitu, akan tetapi.
Misalnya:
... Oleh karena itu, kita harus hati-hati.

Pemakaian Tanda Titik


  1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya:
Ayahku tinggal di Solo.
Biarlah mereka duduk di sana.
Dia menanyakan siapa yang akan datang.
  1. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Misalnya:
    1. III.  Departemen Dalam Negeri
A.  Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
B.   Direktorat Jenderal Agraria
1.  ...
    1. 1.   Patokan Umum
1.1    Isi Karangan
1.2    Ilustrasi
1.2.1      Gambar Tangan
1.2.2      Tabel
1.2.3      Grafik
Catatan:
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.
  1. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu.
Misalnya:
pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)
  1. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan jangka waktu.
Misalnya:
1.35.20 jam ( 1 jam, 35 menit, 20 detik)
0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
0.0.30 jam (30 detik)        
  1. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.

Hubungan Kedwibahasaan dan Diglosia

Diglosia

     Agak mirip dengan kedwibahasaan, diglosia adalah penggunaan dua bahasa atau lebih dalam masyarakat, tetapi masing-masing bahasa mempunyai fungsi atau peranan yang berbeda dalam konteks sosial. Ada pembagian peranan bahasa dalam masyarakat dwibahasawan terlihat dengan adanya ragam tinggi dan rendah, digunakan dalam ragam sastra dan tidak, dan dipertahankan dengan tetap ada dua ragam dalam masyarakat dan dilestarikan lewat pemerolehan dan belajar bahasa.

Hubungan Kedwibahasaan dan Diglosia
      Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa kedwibahasaan dan diglosia berhubungan dengan penguasaan dua bahasa atau lebih dalam masyarakat, berikut ini dikemukakan hubungan keduanya.
1. Masyarakat Dwibahasawan dan Diglosik
yaitu masyarakat yang menguasai dua bahasa atau lebih yang digunakan secara bergantian, namun masing-masing bahasa mempunyai peranannya masing-masing. Contohnya masyarakat Indonesia dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa daerah sebagai bahasa intrakelompok. Hal ini dapat dilihat juga di Malaysia dengan bahasa Inggris dan Melayu, Filipina dengan bahasa Inggris dan Tagalog, dan di Haiti dengan bahasa Perancis dan Kreol Haiti.
2. Masyarakat Dwibahasawan tetapi takdiglosik
yaitu masyarakat yang menguasai dua bahasa atau lebih yang digunakan secara bergantian, dengan masing-masing bahasa memiliki peranan yang sama. Hal ini terlihat pada masyarakat Montreal Kanada.

Definisi Kedwibahasaan

     Kedwibahasaan sebagai akibat adanya kontak bahasa berubah-ubah dan merupakan istilah yang bersifat relatif atau nisbi. Berikut ini beberapa definisi kedwibahasaan.

1. Weinreich
Kedwibahasaan adalah kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih secara bergantian
2. Bloomfield
Merumuskan kedwibahasaan sebagai penguasaan yang sama baiknya atas dua bahasa atau native like control of two languages. Penguasaan dua bahasa dengan kelancaran dan ketepatan yang sama seperti penutur asli sangatlah sulit diukur.
3. Mackey
Merumuskan kedwibahasaan sebagai kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih oleh seseorang (the alternative use of two or more languages by the same individual). Perluasan pendapat ini dikemukakan dengan adanya tingkatan kedwibahasaan dilihat dari segi penguasaan unsur gramatikal, leksikal, semantik, dan gaya yang tercermin dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
4. Haugen
Mengemukakan kedwibahasaan dengan tahu dua bahasa (knowledge of two languages), cukup mengetahui dua bahasa secara pasif atau understanding without speaking.
5. Oksaar

Jumat, 02 November 2012

Cerpen Rahasia Tarian Suci Oleh: Arswendo Atmowiloto


        Baginda raja mengadakan pesta besar. Memperingati ulang tahun menjadi raja. Undangan khusus disebar. Para pembesar Belanda menempati tempat yang istimewa. Sementara para bangsawan, kerabat Keraton berada di lapis kedua. Malam pesta besar itu diadakan dansa-dansi oleh para ‘sinyo’ Belanda dengan istrinya. Pakaian mereka menggambarkan kejayaan dan kekuasaan yang tak terkalahkan. Dari pihak Keraton dipersembahkan sebuah tarian suci. Tarian Budaya Agung. Ini hanya bisa ditarikan oleh putri-putri Keraton. Untuk bisa menarikan perlu latihan yang panjang, dan melelahkan. Hanya pada hari istimewa saja tarian itu dipentaskan. Untuk ukuran sekarang ini baru dipentaskan dua kali. Ketika Baginda Raja naik tahta delapan tahun lalu, dan sekarang ini.
Seluruhnya ada tujuh penari. Sesungguhnya masyarakat yang berdesakan di alun-alun, yang memandang dari kejauhan, menunggu tari BedayaAgung ini. Bagi mereka seumur hidup bisa menyaksikan tiga kali tarian suci ini merupakan keistimewaan.
Tapi ternyata para pembesar Belanda tidak menaruh hormat. Ketika tari Bedaya Agung disuguhkan, sebagian dari pembesar ini masih mabuk, berceloteh, mengumpat, berjalan ke sana ke mari. Padahal biasanya saat tari Bedaya Agung disuguhkan, tarikan napas pun diatur agar tidak mengganggu. Untuk pertama kalinya Baginda Raja tersinggung. Merasa diremehkan oleh para pembesar Belanda. Suasana yang tak sakral, membuat para penari tak sepenuhnya bisa mengikuti ‘gerak batin’, oleh roh yang lembut. Keagungan dan keanggunan tari suci menjadi berkurang maknanya.
Pada saat yang krisis itu, mendadak dari arah penonton, dari rakyat biasa muncul seorang perempuan yang melenggang. Gerak tarinya sangat halus, lembut, tapi penuh dengan wibawa.
Sang penari baru ini memesona seluruh hadirin. Bahkan ketika menyatu dengan para putri Keraton, semuanya mengalir dengan sempurna. Selama dua jam lebih, tak ada yang berbisik, tak ada yang membuat ulah. Semua teredam oleh sang penari. Oleh geraknya, oleh wibawanya. Baru setelah tarian itu selesai, para pembesar Belanda bertepuk tangan. Diikuti oleh semua yang hadir. Baginda Raja memerlukan berdiri dari kursi kebesarannya untuk menemui sang penari.