Minggu, 04 November 2012

Hubungan Kedwibahasaan dan Diglosia

Diglosia

     Agak mirip dengan kedwibahasaan, diglosia adalah penggunaan dua bahasa atau lebih dalam masyarakat, tetapi masing-masing bahasa mempunyai fungsi atau peranan yang berbeda dalam konteks sosial. Ada pembagian peranan bahasa dalam masyarakat dwibahasawan terlihat dengan adanya ragam tinggi dan rendah, digunakan dalam ragam sastra dan tidak, dan dipertahankan dengan tetap ada dua ragam dalam masyarakat dan dilestarikan lewat pemerolehan dan belajar bahasa.

Hubungan Kedwibahasaan dan Diglosia
      Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa kedwibahasaan dan diglosia berhubungan dengan penguasaan dua bahasa atau lebih dalam masyarakat, berikut ini dikemukakan hubungan keduanya.
1. Masyarakat Dwibahasawan dan Diglosik
yaitu masyarakat yang menguasai dua bahasa atau lebih yang digunakan secara bergantian, namun masing-masing bahasa mempunyai peranannya masing-masing. Contohnya masyarakat Indonesia dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa daerah sebagai bahasa intrakelompok. Hal ini dapat dilihat juga di Malaysia dengan bahasa Inggris dan Melayu, Filipina dengan bahasa Inggris dan Tagalog, dan di Haiti dengan bahasa Perancis dan Kreol Haiti.
2. Masyarakat Dwibahasawan tetapi takdiglosik
yaitu masyarakat yang menguasai dua bahasa atau lebih yang digunakan secara bergantian, dengan masing-masing bahasa memiliki peranan yang sama. Hal ini terlihat pada masyarakat Montreal Kanada.

3. Masyarakat takdwibahasawan tetapi diglosik
adalah gambaran suatu masyarakat karena ikatan negara terdiri atas dua golongan, masing-masing ekabahasawan dan apabila berkomunikasi membutuhkan kehadiran penerjemah. Gambaran seperti ini terjadi di Eropa sebelum perang dunia II.
4. Masyarakat takdwibahasawan dan takdiglosik
adalah gambaran masyarakat ekabahasawan murni tanpa adanya variasi penggunaan bahasa. Pada saat ini sangatlah sulit untuk mendapatkan gambaran masyarakat yang takdwibahasawan dan takdiglosik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar