Harus diakui, sertifikasi dalam profesi pendidik menjadi salah satu program yang diidam-idamkan banyak guru di Indonesia. Selain meningkatkan kesejahteraan, guru yang sudah sertifikasi atau memiliki sertifikat profesi diharapkan lebih profesional dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
Sebelum dinyatakan sebagai guru profesional dan berhak atas tunjangan profesi (sebesar gaji pokok), guru harus melewati beberapa tahapan. Sejak awal program sertifikasi dimulai, setelah mengumpulkan berkas dan dinyatakan lulus Ujian Kompetensi Awal (UKA), guru terlebih dulu mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) atau diklat (pendidikan dan latihan) selama 90 jam dan seterusnya sampai mendapat SK atau sertifikat penanda sudah seritifikasi.
Atas dasar tujuan peningkatan kualitas guru sertifikasi, belakangan muncul rencana mengganti sistem PLPG dan menggantinya dengan Program Profesi Guru (PPG) mulai 2015 mendatang. PPG ini wajib diikuti guru dan calon guru selama dua semester (satu tahun).
Cara Mendaftar Program Pendidikan Profesi Guru ( PPG)
Berpedoman pada portal resmi Kemendiknas Republik Indonesia.
Dasar Hukum Program PPG
UU No. 20 Tahun 2003, Tentang Sisdiknas
UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen
PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
PP No. 74 tentang Guru
Permendiknas No. 16 tahun 2007 tentang standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru
Permendiknas No. 27 tahun 2008 tentang Program standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor
Permendiknas No. 8 Tahun 2009 tentang Program pendidikan profesi guru pra jabatan
Permendiknas no. 9 Tahun 2010 tentang program pendidikan profesi guru dalam jabatan
Kep mendiknas No. 9 tahun 2010 tentang program pendidikan Guru bagi guru dalam jabatan
Kriteria Bagi Peserta program PPG adalah sebagai berikut:
PPG diorientasikan bagi guru yunior yang berprestasi dan mengajar pada satuan pendidikan (SMP/MTs,SMA/MA, dan SMK/MAK).
Peserta diusulkan oleh dinas pendidikan kabupaten/kota.
Seleksi peserta terdiri atas seleksi administratif dan seleksi akademik. Seleksi administratif dilakukan oleh dinas pendidikan Kabupaten/Kota sedangkan seleksi akademik dilakukan oleh PPG penyelenggara yang ditunjuk Kemendiknas.
Peserta yang dinyatakan lulus dan diterima dalam program PPG diberikan Nomor Pokok Mahasiswa (NPM) oleh PPG yang ditunjuk kemendiknas. Daftar peserta yang dinyatakan lulus beserta NPM selanjutnya dilaporkan kepada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendiknas.
Persyaratan Peserta program PPG
Persyaratan peserta PPG adalah sebagai berikut.
1.Memiliki kualifikasi akademik minimal Sarjana (S-1) atau Diploma Empat (D-IV) dari program studi yang terakreditasi, kecuali Program Studi PGSD dan PGPAUD.
2.Mengajar di satuan pendidikan di bawah binaan Kementerian Pendidikan Nasional.
3.Guru PNS yang mengajar pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) atau guru yang dipekerjakan (DPK) pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat.
4.Guru Non PNS yang berstatus guru tetap yayasan (GTY) atau guru yang mengajar pada satuan pendidikan negeri yang memiliki Surat Keputusan dari Pemda.
5.Memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK).
6.Memiliki masa kerja sebagai guru minimal 5 tahun
7.Bersedia mengikuti pendidikan sesuai dengan peraturan yang ada dan mendapatkan ijin belajar dari Kepala sekolah dan Pemda.
8.Memiliki surat keterangan berbadan sehat dari dokter.
9.Memiliki surat keterangan bebas napza (narkotika, psikotropika, dan zat aditif lainnya) dari instansi yang berwenang.Cara Mendaftar Program Pendidikan Profesi Guru ( PPG)
Sabtu, 14 Februari 2015
Kamis, 20 Juni 2013
Teknik Pembelajaran Kelompok Buzz (Buzz Group)
Teknik pembelajaran Kelompok Buzz diperkenalkan oleh seorang pendidik dan ahli sosiologi Morgan,et al pada tahun 1976. Kata ”Buzz” berasal dari bahasa Inggris yang berarti ”dengungan”. Disebut dengungan karena dalam pelaksanaannya akan terdengar suara mendengung seperti lebah akibat banyaknya kelompok –kelompok kecil yang berbicara (berdiskusi). Menurut Sudjana (2001) dalam bukunya Metode dan Teknik Partisipatif, Teknik Kelompok Buzz merupakan teknik sederhana untuk menggali informasi dan perasaan dalam suasana orang berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil (dua orang atau lebih). Selanjutnya menurut Roestiyah (2008:9) Buzz Group adalah suatu kelompok besar yang dibagi menjadi 2 (dua) sampai 8 (delapan) kelompok yang lebih kecil untuk memecahkan satu permasalahan yang dihadapi kelompok besar kemudian kelompok kecil ini diminta untuk melaporkan hasil diskusi yang mereka lakukan kepada kelompok besar. Trianto (2009) mendefinisikan Kelompok Buzz sebagai kelompok aktif yang terdiri dari 3-6 orang siswa untuk mendiskusikan ide siswa untuk memecahkan masalah pada satu materi pelajaran.
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa teknik Kelompok Buzz merupakan teknik diskusi kelompok jangka pendek yang sederhana untuk menggali informasi dan perasaan siswa untuk memecahkan
Selasa, 19 Maret 2013
Alamat E-mail Surat Kabar Seluruh Indonesia
Bagi teman-teman yang ingin menerbitkan karya berupa tulisan di surat kabar, kali ini saya berbagi alamat e-mail surat kabar seluruh indonesia. Semoga bermanfaat.
JAKARTA
Majalah Horison
Untuk Puisi: horisonpuisi@centrin.net.id
Untuk Cerpen: horisoncerpen@centrin.net.id
Untuk Esai: horisonesai@centrin.net.id
Kompas
Untuk Cerpen/Esai: opini@kompas.com, opini@kompas.co.id
Untuk Puisi: hasif@gmx.net
Republika
Untuk Cerpen/Puisi/Esai: sekretariat@republika.co.id atau ahmadun21@yahoo.com
Suara Pembaruan
Untuk Cerpen/Puisi/Esai: willy@suarapembaruan.com, sastra@suarapembaruan.com
Sinar Harapan
Untuk Cerpen/Puisi/Esai: redaksi@sinarharapan.co.id, info@sinarharapan.co.id
Aliran Pendidikan: Eksistensialisme
Aliran ini tidak menghendaki adanya aturan-aturan pendidikan dalam segala bentuk. Dan karena itu pula eksistensialisme menolak segala bentuk pendidikan termasuk yang ada sekarang.
- Ibnu Mizkawih Mis dalam bukunya Tahzib akhlak berpendapat bahwa tiap benda itu mempunyai form atau bentuknya masing-masing sehingga tidak bisa menerima bentuk lain.
- Ibnu Sina berpendapat bahwa “seorang anak telah mempunyai kemampuan alamiah, akan tetapi mengendalikan kemampuan tersebut tidak cukup untuk mendidik seseorang dan harus ada faktor-faktor lainnya
- Menurut al – Gazhali, anak yang lahir telah membawa fitrahnya sendiri kecenderungan-kecenderungan serta warisan dari orang tuanya.
- Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa : “Ada beberapa aliran yang mewarnai dunia pendidikan terutama cara memandang manusia sebagai subjek” sekaligus obyek.
Aliran Pendidikan: Konvergensi
Aliran dipelopori oleh William Sterm. Ia berpendapat bahwa natura hereditas dan miliu saling berkaitan dan saling memberi pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia. Secara kodrati, manusia telah dibekali dengan bakat atau potensi.
Aliran ini dipelopori oleh William Stern (1871-1938). Aliran ini semakin dikenal setelah kedua aliran sebelumnya yakni empirisme dan nativisme tidak lagi banyak memiliki pengikut. Inti ajaran konvergensi adalah bahwa bakat, pembawaan dan lingkungan atau pengalamanlah yang menentukan pembentukan pribadi seseorang. Sehubungan dengan hal itu teori. Konvergensi yang dikemukakan William Stern berpendapat bahwa:
Pendidikan memiliki kemungkinan untuk dilaksanakan, dalam arti dijadikan penolong kepada anak untuk mengembangkan potensi. Yang membatasi hasil pendidikan anak adalah pembawaan dan lingkungannya.
Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, aliran konvergensi dipandang lebih realistis, sehingga banyak diikuti oleh para pakar pendidikan.
Aliran Pendidikan: Naturalisme
Aliran naturalisme dipelopori oleh Jean Jacques Roessewaw (1712-1778) ialah berpendapat bahwa “segala sesuatu yang datang dari alam itu adalah baik, tetapi setelah tiba pada manusia bisa saja ia menjadi. Maka untuk membimbing seorang anak cukuplah berdasarkan pada keinginan dan pembawaannnya. Ia beranggapan bahwa lingkungan adalah sumber dari segala keburukan” Pandangan yang ada persamaannya dengan nativisme adalah aliran naturalisme (Umar Tirtarahardja, 2000:197).
Lahirnya aliran ini dipelopori oleh J.J Rousseau, yang mengamati pendidikan. Ditulis dalam bukunya yang berjudul “Emile” menyatakan bahwa anak yang dilahirkan pada dasarnya dalam keadaan baik. Anak menjadi rusak atau tidak baik karena campur tangan manusia (masyarakat). Aliran ini berpendapat bahwa pendidikan hanya memiliki kewajiban memberi kesempatan kepada anak untuk tumbuh dengan sendirinya. Pendidikan sebaiknya diserahkan kepada alam. Oleh karena itu ciri utama aliran ini adalah bahwa dalam mendidik seorang anak hendaknya dikembalikan kepada alam agar penbawaan yang baik tersebut tidak dirusak oleh pendidik.
Aliran Pendidikan: Nativisme
Aliran berpendapat bahwa “anak lahir sudah mempunyai potensi yang mempengaruhi hasil dari perkembangan selanjutnya”. Pendidikan sama sekali tidak mempunyai daya atau kekuatan untuk mempengaruhi anak pendidikan hanya memberi polesan kulit luar dari tingkah laku sosial anak sedangkan bagian internal dari kepribadian anak didik tidak di tentukan.
Menurut Zahara Idris(1992:6) nativisme berasal dari bahasa latin nativus berarti terlahir. Seseorang berkembang berdasarkan pada apa yang dibawanya sejak lahir. Adapun inti ajarannya adalah bahwa perkembangan seseorang merupakan produk dari faktor pembawaanyang berupa bakat. Aliran ini dikenal juga dengan aliran pesimistik karena pandangannya yang menyatakan, bahwa orang yang “berbakat tidak baik” akan tetap tidak baik, sehingga tidak perlu dididik untuk menjadi baik, Begitu pula sebaliknya. Namun demikian aliran ini berpendapat bahwa pendidikan sama sekali tidak berpengaruh terhadap perkembangan seseorang, sehingga bila pendidikan yang diberikan tidak sesuai dengan pembawaan seseorang maka tidak akan ada gunanya.
Aliran Pendidikan: Empirisme
Aliran empirisme dipelopori oleh “John Lock (1632-1704) terkenal dengan tahu ia rasa, aliran ini menekankan arti penting dari pengalaman dan lingkungan dalam mendidik anak. Aliran ini bertentangan dengan nativisme dan naturalisme.
Aliran ini dimotori oleh seorang filosof berkebangsaan inggris yang raionalis bernama John Locke (1632-1704). Aliran ini bertolak dari Lockean tradition yang lebih mengutamakan perkembangan manusia dari sisi empirikyang secara eksternal dapat diamati dan mengabaikan pembawaan sebagai sisi internal manusia (Umar Tirtarahardja,2000:194). Secara etimologis empirisme berasal dari kata empiri yang berarti pengalaman. Pokok pikiran yang dikemukakan oleh aliran ini menyatakan bahwa pwngalaman adalah sumber pengetahuan, sedangkan pembawaan yang berupa bakat tidak diakuinya. Menurut aliran empirisme bahwa pada saat manusia dilahirkan sesungguhnya dalam keadaan kosong bagaikan “tabula rasa” yaitu sebuah meja berlapis lilin yang tidak dapat ditulis apapun di atasnya. Sehingga pendidikan memiliki peran yang sangat penting bahkan dapat menentukan keberadaan anak.
Pendidikan dikatakan “Maha Kuasa” artinya Pendidikan memiliki kekuasaan dalam menentukan nasib anak. John Locke menganjurkan agar pendidikan disekolah dilaksanakan berdasarkan atas kemampuan rasio dan bukan perasaan. Aliran ini meyakini bahwa dengan memberikan pengalaman melalui didikan tertentu kepada anak, maka akan terwujudlah apa yang diinginkan. Sementara itu pembawaan yang berupa kemampuan dasar yang dibawa seseorang sejak lahir diabaikan sama sekali. Penganut aliran ini masih berkeyakinan bahwa manusia dipandang sebagai makhluk yang dapat dimanipulasi karena keberadaannya yang pasif.
Aliran Pendidikan: Konstruktivisme
Lebih dua dasa warsa terakhir ini , dunia pendidikan mendapat sumbangan pemikiran dari teori kontruktivisme sehingga banyak negara mengadakan perubahan secara mendasar terhadap sistem dan praktik pendidikan mereka bahkan kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pun tak luput dari pengaruh teori ini. Paul Suparno dalam "Filsafat Konstuktivitas dalam pendidikan " mencoba mengurai implikasi filsafat konstruktivisme dalam pendidikan.
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri (Von Glaserfeld) . pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut.
Jean Piaget adalah Psikolog pertama yang menggunkan filsafat konstruktivisme, sedangkan teori pengetahuanya dikenal dengan teori adaptasi kognitif, sama halnya dengan setiap organisme harus beradaptasi secara fisik dengan dengan lingkungan untuk dapat bertahan hidup , demikian juga struktur pemikiran manusia, manusia bertentangan dengan tantangan , pengalaman, gejala baru, dan persoalan yang harus ditanggapinya secara kognitif (mental). untuk itu manusia harus mengembangkan skema pikiran lebih umum atau rinci, atau perlu perubahan menjawab dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman tersebut. dengan cara itu, pengetahuan seseorang terbentuk dan selalu berkembang. proses tersebut meliputi :
Aliran Pendidikan: Perenialisme
Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh, Pernialisme berasl dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu . perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif, perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. jalan yang ditempuh oleh kaum perenialisme adalah dengan jalan mundur kebelakang, dengan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh. dalam pendidikan kaum perenialisme perpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta membahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat dari pada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam prilaku pendidikan. Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatianya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. perenialisme memnadang pendidikan sebagi jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal.
Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman sekarang. sikap ini bukanlah nostalgia (rindu akan hal-hal yang sudah lampau semata-mata) tetapi telah berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut berguna bagi bad sekarang, jadi siakp kembali kemasa lapau itu merupakan konsep bagi perenialisme dimana pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang ini.
Aliran Pendidikan: Esensialisme
Esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal perabadan manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan Progresivisme. perbedaanya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, dimana serta terbuka untuk perubahan , toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu, essensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai kejelasan dan tahan lama yang memberikan kesetabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Idealisme dan realisme adalah filsafat yang membentuk corak Esen sial , akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya masing-masing yang disebu Essensialisme, karena timbul pada zaman itu, essensialisme adalah konsep meletakan sebagian ciri alam pikir modern, Essensialisme pertam-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. maka disusunlah konsep sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman.
Tokoh-tokoh Aliran esensialisme.
1. George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831)
2. George Santayana
Aliran Pendidikan: Progresivisme
Aliran Progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita, terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagunganya. progresivisme dinamakan instumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup untuk kesejasteraan , untuk mengembangkan kepribadian manusia. dinamakan eksperimentalisme, karena aliran tersebut menyadari dan mempraktekan suatu teori. progresivisme dinamakan environmentalisme karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian.
tokoh-tokoh aliran Progresivisme.
1. William James (11 Januari 1842-26 Agustus 1910)
2. John Dewey (1859-1952)
3.hans Vaihinger (1852-1933)
4. Georges Santayana
Aliran filsafat progresivisime telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan pada abad ke-20, dimana telah meletakan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik . anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berfikir ,guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya, tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain, oleh karena itu filsafat progresivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. sebab pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi - pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.
Sabtu, 12 Januari 2013
Pendekatan Silang Budaya dalam Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing
Konsep pendekatan silang budaya sebagai pencitraan budaya Indonesia melalui pengajaran BIPA menunjukkan suatu wacana baru dalam pengajaran Bahasa Indonesia untuk penutur asing dengan menekankan pada pertumbuhan, perubahan, perkembangan dan kesinambungan yang menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dinamis dan bersinergi dengan kebutuhan masyarakat Informatif. Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa di Asia yang berpotensi untuk pertukaran kebutuhan informasi dunia, karena ciri pluralistik masyarakat penuturnya. Bahasa Indonesia dan pendekatan silang budaya merupakan upaya “kembali ke etnisitas”. Terlepas dari penafsiran hegemoni sukuisme, dalam belajar bahasa Indonesia (khususnya bagi orang asing) merupakan realitas sosial bahwa pluralisme masyarakat Indonesia berbicara bahasa Indonesia dengan pola pikir, pola hidup dan berdasar nilai etnisitas, sehingga bersifat “Indonesianisasi tata krama komunikasi etnisitas” .
Keragaman suku di Indonesia dapat dilihat sebagai perbedaan yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Perbedaan itulah yang dipelajari secara silang budaya untuk dilihat nilai-nilai psikologis masyarakatnya. Silang budaya antar-berbagai tradisi di nusantara baik dengan anasir kesatuan Indonesia sebagai “nation state”, maupun dengan asing sebagai rasional globalisasi tentunya akan membawa ke arah suatu perubahan yang dinamis. Budaya lokal akan melakukan filterisasi sebelum menjadi sebuah acuan.
Jumat, 30 November 2012
Contoh Essai Pertunjukan: Coro - Putu Wijaya
Terjadi situasi genting, ketika manusia tidak lagi manusiawi. Putu Wijaya, lewat Coro-nya ingin mengangkat suatu realita bahwa manusia yang satu dengan kekuasaan yang lebih tinggi menganggap manusia yang lain dengan posisi yang rendah adalah hal yang hina, perlu dimusnahkan, dan tidak perlu didengarkan pendapatnya. Bahkan jika ia tidak memusnahkan manusia yang lebih rendah posisinya, maka ia telah melakukan kesalahan yang besar.
Diperankan oleh Agus Susilo yang merupakan pemain teater dengan jam terbang cukup tinggi, penonton sebenarnya dapat dengan sendirinya menentukan penafsiran mengenai pementasan teater monolog karya Putu Wijaya ini. Sehingga pembacaan sinopsis cerita di awal pementasan terkesan membunuh kreativitas penonton untuk menafsirkan hal atau pemikiran lain mengenai isi cerita yang akan ditampilkan.
Dipentaskan pada Open Stage FBS – UNIMED Jumat, 26 November 2010 pada pukul 15.00, naskah monolog Coro yang tersaji dalam lima halaman kemudian dibawakan oleh Agus Susilo dengan waktu sekitar setengah jam.
Coro bercerita mengenai sosok mahluk manusia yang menyimpan kebencian dan rasa jijik yang amat dalam pada sesosok serangga yang dikenal orang dengan sebutan coro. Cerita ini dikemas dengan cukup sederhana oleh Putu Wijaya selaku penulis nakah. Terkesan biasa bagi sebagian orang karena menceritakan hal ihwal yang biasa kita temui pada kehidupan sehari-hari. Orang yang membenci sesuatu karena sesuatu tersebut dianggap kotor, rendah, sumber penyakit, dan tak berguna. Tanpa pengecualian, manusia yang dikisahkan dalam cerita akan membunuh coro yang ditemuinya tanpa pikir panjang. Hingga pada suatu hari, sang manusia ketika pulang ke rumah menemukan coro di dalam rumahnya. Dia marah bukan main. Dia lantas mengejar coro dan hendak membinasakannya hingga terjadi pertikaian yang berwujud dialog antara manusia dan coro.
Penyebab Kesalahan Berbahasa
Interferensi (interlanguage)
Interferensi adalah kesalahan berbahasa karena pengaruh satu bahasa terhadap bahasa yang lain. Interferensi terjadi pada seorang dwibahasawan, atau seseorang yang mengenal lebih dari satu bahasa di dalam kehidupan sehari-harinya. Adakalanya interferensi menjadi gejala umum dalam masyarakat satu bahasa sehingga tidak dipandang sebagai kesalahan lagi. Gejala sepertio ini sering disebut integrasi.
Di Indonesia, tidak sedikit ditemukan pemakaian bahasa yang berciri interferensi ini, baik karena pengaruh bahasa daerah maupun bahasa asing, seperti:
fikir
diketemukan
ditamparin
Dia malas cari bukti itu.
Bapaknya Ali sakit.
Orang si Tagor sudah datang?
Analisis Kesalahan Kalimat
Kesalahan kalimat meliputi kesalahan urutan kata dan penghilangan fungtor kalimat. Perhatikanlah contoh-contoh kesalahan urutan kata dan kesalahan karena penghilangan fungtor kalimat di bawah ini.
Kesalahan Urutan Kata
(1) Di sekolah-sekolah sering kita mendengar lagu “Indonesia Raya”.
(2) Diajarkan kepada mereka hal-hal baru mengenai dunia botani.
(3) Bisa juga guru membiarkan murid-muridnya berkembang sendiri.
Kesalahan karena Penghilangan Fungtor Kalimat
a. Penghilangan Subjek
(1) Memberikan rangsangan agar siswa dapat mengembangkan kreativitasnya.
(2) Bila miskin, otomatis tidak dapat membangun secara serius.
(3) Dalam hal yang demikian, memang sering menemui kesulitan yang susah diatasi.
b. Penghilangan Predikat
(1)Mereka sebagai pusat informasi bagi siswanya.
c. Penghilangan Objek
(1) Seorang guru harus mampu mengajar, mendidik, dan melatih.
(2) Guru bukan hanya mengajari siswa, melainkan mendidik agar menjadi manusia siap pakai.
Ranah Kesalahan Berbahasa
1. Analisis Kesalahan Fonologi
Kesalahan fonologi mencakup kesalahan pengucapan fonem dan penulisan huruf. Karena kaidah pengucapan belum dibakukan di dalam bahasa Indonesia, maka analisis kesalahan fonologi yang akan dibicarakan di sini hanya terbatas pada kesalahan penulisan atau pemakaian huruf. Berikut ini akan ditampilkan beberapa contoh kesalahan pemakaian atau penulisan huruf dalam bahasa Indonesia.
(1) Adik bertanya, “kapan kita pulang ?”
(2) Yang mahakuasa.
(3) Dialah pemimpin idaman masarakat.
(4) Siapakah Gubernur yang baru dilantik itu ?
(5) IR. Anwar, DRS. Agus Basri, Abdul Saleh, SH.
(6) Perbuatan itu bertentangan dengan UUD negara kita.
1. Analisis Kesalahan Morfologi
Kesalahan morfologi meliputi kesalahan menggunakan afiks, kata ulang, menyusun kata majemuk, dan memilih kata. Perhatikanlah contoh-contoh di bawah ini.
(1) Anak yang hilang itu diketemukan kemarin sore.
(2) Puteri ulama terkenal itu disunting seorang pangeran Arab Saudi.
(3) Data-data menunjukkan keterlibatannya.
(4) Sejak kemarin, dia tidak mengacuhkan saya.
(5) Dia berada di ruangan depan.
Kamis, 22 November 2012
Jenis Karangan Deskripsi
Karangan deskripsi ini terbagi atas dua jenis yaitu deskripsi ekspositoris dan deskripsi artistik/impresionistik.
1. Deskripsi Ekspositoris
Deskripsi ini bertujuan menjelaskan sesuatu dengan perincian yang jelas sebagaimana adanya tanpa menekankan unsur impresi/kesan atau sugesti kepada pembaca. Bahasa yang digunakan adalah bahasa formal dan lugas. Karangan jenis ini berisi daftar detail sesuatu secara lengkap sehingga pembaca dengan penalarannya dapat memperoleh kesan keseluruhan tentang sesuatu.
2. Deskripsi Artistik/ Impresionistik
Deskripsi ini bertujuan untuk mendapatkan tanggapan emosional pembaca pun kesan pembaca. Ciri khas deskripsi ini diantaranya ditentukan oleh macam kesan apa yang diinginkan penulisnya. Dalam hal ini kesan-kesan itu dapat diurutkan secara kronologis, lokasi, klimaks, dan antiklimaks. Selain itu pemilihan kata secara tepat sangat penting.
Perincian yang jelas dengan menekan unsur sugesti dan menggunakan impresi atau kesan penulis terhadap objek yang digambarkan sehingga pembaca seolah-olah berkenalan langsung dengan objek yang disampaikan ini serta bahasa yang digunakan itu sangat memikat dan pilihan kata yang menggugah perasaan,
Berikut ini disajikan sebuah contoh deskripsi artistik/ Impresionisktik tentang suasana alam :
BEKISAR MERAH
Ahmad Tohari
Unsur - unsur Pembentuk Karangan Deskripsi
Unsur-unsur karangan deskripsi dalam hal ini artinya bagian-bagian yang membangun suatu karangan. Unsur-unsur inilah yang juga sekaligus menjadi patokan penilaian suatu karangan. Apabila karangan itu sempurna atau kurang sempurna.
Unsur-unsur karangan tersebut dapat dilihat pada penjelasan berikut ini:
1. Isi Gagasan
Dalam karangan deskripsi, isi merupakan aspek penilaian. Isi mencakup topik, sub topik dan urutan pengembangan topik adalah pembicaraan dalam keseluruhan karangan, sebuah topik dapat bersumber dari pengalaman, pengetahuan, imajinasi pendapat atau keyakinan. Sebuah karangan bisa menyajikan fakta, pendapat, sikap, tanggapan, imajinasi atau ramalan.
Sebuah karangan yang baik isinya harus memperlihatkan penyusunan topik, sub topik dan adanya urutan pengembangan yang cukup mendetail serta disusun dengan cermat dan logis dengan demikian susunan cerita menjadi teratur.
2. Organisasi Kalimat (Koherensi dan Kohesi Isi)
Organisasi dalam karangan adalah pengolahan bahan, pengaturan pengembangannya. Organisasi isi yang baik harus memperlihatkan koherensi dan kohesi. Koherensi adalah memperlihatkan adanya hubungan yang logis atau suatu upaya membuat jalan pikiran dari yang satu ke yang lain berhubungan erat dan lancar serta menghasilkan kejelasan sehingga pembaca dapat mengikuti jalan pikiran sipenulis secara jelas dan dapat melihat kaitan satu sama lain serta kaitannya dengan ide pokok.
Langkah - langkah Menulis Karangan Deskripsi
Ada pun langkah-langkah mengarang menurut Setiawan Djuharie (2001: 57), meliputi di bawah ini.
1. Menentukan atau memilih tema atau topik karangan
Langkah paling awal dalam membuat suatu karangan adalah menentukan tema atau topik karangan. Tema diartikan pokok pikiran, sedangkan topik adalah pokok pembicaraan. Apabila dilihat dari sudut sebuah karangan yang telah selesai tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Dalam kenyataannya untuk menulis suautu karangan, penulis harus memilih suatu topik atau pokok pembicaraan. Dengan demikian, pada waktu menyusun sebuah tema untuk untuk sebuah karangan ada dua unsur yang paling dasar yaitu topik atau pokok pembicaraan dan tujuan yang hendak dicapai melalui topik tersebut.
Bagi pengarang pemula, penentuan topik tulisan merupakan sesuatu yang agak sulit dilakukan. Dalam menetapkan topik penulis harus menguasai betul kira-kira permasalahan apa yang akan ditulis. Jadi, agar topik benar-benar terwujud pilihlah topik yang benar-benar menarik perhatian.
Hal ini sesuai dengan pendapat Gorys Keraf (1994: 111) bahwa;
“Sebuah topik pertama-tama haruslah menarik perhatian penulis sendir. Topik yang menarik perhatian penulis akan memungkinkan pengarang berusaha terus menerus mencari data-data untuk memecahkan masalah yang dihadapinya, penulis akan didorong terus-menerus agar dapat menyelesaikan tulisan itu dengan sebaik-baiknya.”
Langganan:
Komentar (Atom)