Kamis, 19 April 2012

Cerita Rakyat Aceh Sikintan Anak Durhaka


           Dahulu, disebuah kampung hidup satu keluarga miskin. Keluarga itu memiliki seorang anak bernama Sikintan. Pekerjaan ayah Sikintan mencari kayu. Kemudian kayu itu dijual kepasar. Uang penjualan kayu itu digunakan untuk membeli keperluan sehari-hari.
            Pada suatu malam, ayah Sikintan itu bermimpi. Dalam mimpinya ia didatangi seorang tua. Orang tua itu menunjukkan, di hulu sungai ada sebuah rumpun bambu besar. Di tengah rumpun bambu itu ada tongkat intan.
“ carilah karena itulah anugerah untukmu “, ujar orang tua itu.
            Keesokan harinya ayah Sikintan mengajak anaknya pergi ke hulu sungai. Sikintan bertanya pada ayahnya, ada apa di hulu sungai. Namun, ayahnya mengatakan, hanya jalan-jalan saja.
            Mereka berjalan kehulu menyusur sungai. Tak berpa lama kemudian, mereka tiba diserumpun bambu. Ayah Sikintan mendekat ke rumpun bambu itu.
“ ayah sedang mencari apa ?”
            ayahnya tak menjawab, malah sibuk mencari-cari. Tak berapa lama, wajahny berbinar, ia melihat tongkat intan. Cepat-cepat diambilnya tongkat berharga itu dan segera dibawanya pulang.
            Kemudian ayah Sikintan menceritakan mimpi tentang tongkat itu. Ketika tiba di rumah, ibu Sikintan heran melihat suaminya memiliki tongkat intan.
            Mereka bertiga mufakat akan menjual tongkat intan itu. Tapi kemana akan dijual ? bila di daerah itu dikjual, orang-orang tentu bisa menduga bahwa barang itu dicuri. Bukankah hidup keluarga itu miskin.
            Akhirnya orang tua Sikintan meminta Sikintan menjual tongkat itu ke negeri lain. Sikintan pergi dengan perahu. Sesaat sebelum berangkat, ayah Sikintan berpesan, “ kalau kamu sudah menjual tongkat intan ini dan mendapat uang banyak, jangan lupa pada kami. Ingat hidup ayah ibumu miskin.”
“ percayalah ayah. Anakda akan selalu mengingat ayah dan ibu, “ ujar Sikintan.
            Dalam perjalanan, Sikintan selalu membantu pemilik perahu. Ketika sampai di tujuan, Sikintan dibebaskan dari ongkos. Bahkan, pemilik perahu memberikan sedikit uang.
            Hati Sikintan merasa senang. Tiba di negeri itu, ia mencoba mencari induk semang. Beberapa hari ia tinggal di rumah induk semangnya. Suatu hari, ia pergi ke pasar menjual tongkat intan yang dibawanya. Beberapa toko yang ditawarinya tak mampu membeli tongkat intan yang mahal itu. Untunglah ada ynag menunjukkan toko paling besar di negeri itu.
“ mungkin toko itu mau membeli barangmu ini. “
            Sikintan membawa tongkat intan ke toko besar itu. Lalu menawarkan pada saudagar pemilik toko. Sikintan menceritakan, ia sudah menawarkan kepada beberapa toko, tapi tak sanggup membelinya. Rupanya saudagar itu merasa malu. Lalu tongkat intan itu dibelinya walaupun dengan harga yang sangat mahal.
            Setelah mendapat uang banyak, Sikintan muali berdagang. Ia membuk toko. Karena mempunyai modal besar, uasaha Sikintan tampak cepat berkembang. Ia menjadi orang kaya raya di negeri itu. Ia pun telah membeli kapal. Sebagai seorang saudagar kaya, Sikintan mempersunting istri yang cantik jelita. Hidup dalam kemewahan, ia lupa ayah dan ibunya yang miskin.
            Suatu malam Sikintan bermpimpi. Ayah dan ibunya datang menemuinya dan berkata, “ Sikintan, kamu sudah kaya raya. Mengapa lupa kepada ayah dan ibumu ? Datanglah, akami menunggumu “
            Setrlah bermimpi itu, Sikintan sadar kan keadaan ayah dan ibunya yang hidup miskin. Lalu diceriatakannya kepada istrinya. Mereka mufakat akan menjenguk ayah dan ibu Sikintan.
            Denganmenggunakan kapal sendiri, Sikintan bersama istrinya serta rombongan menuju kampung ayah dan ibunya. Ketika tiba di pelabuhan, Sikintan mengutus oarang untk memberi tahu kedatangannya kepada ayah dan ibunya, agar orang tuanya datang ke kapal. Oarang itu segera memberi kabar. Dan mengatakan bahwa Sikintan sudah kaya raya.
            Mendengar berita itu, ayah Sikintan meuju ke kapal ingin bertemu dengan buah hatinya. Di tepi kapal, ia bertanya diman anaknya Sikintan. Petugas memberitahu kepada Sikintan bahwa yahnya sudah datang. Ketika melihat ayahnya sudah tua dengan pakaian kuamal dan compang-caming pula, ia merasa malu. Malu kepada istri dan rombongannya. Sikintan tidak mengakui bahwa orang tua yang ada di hadapannya adalah orang tuanya.
‘ bukan, dia bukan ayahku, suruh orang tua itu pergi “
            dengan hati yang sedih, ayah Sikintan pulang. Di rumah, orang tua it menangis. Istrinya heran melihat suaminya tiba-tiba menangis.
“ mengapa abang menangis ?”
“ Sikintan tak mengakui aku lagi sebagai ayahnya. Coba kau kesana. Mungkin kau diakui sebagai ibunya “
            ibu Sikintan berangkat ke kapal ingin menemui anakanya. Di tepi kapal, keapada oarang, ia ia memberi tahu ingin bertemu dengan anaknya Sikintan. Ketika Sikintan melihat ibunya tua bangka dengan pakaian kumal pula, ia tidak mau mengakui orang itu ibunya. Lalu pulanglah ibu Sikintan dengan hati sedih. Tiba di rumah, ia bertangis-tangisan dengan suaminya.
            Sikintan dan rombongan pun bersama kapalnya berangkat. Tak berapa jauh meninggalkan pelabuhan, datanglah hujan dan badai. Kapal Sikintan taka dapat berlayar. Kapten kapal berkata pada Sikintan, ia telah durhaka kepada ibunya.
“ kembali ke pelabuhan. Disana nanti saya akan mengakui kedua orang tua itu sebagai orang tua saya,” kata Sikintan kepada kapten kapal.
            Tiba di pelabuhan, diutus orang untuk menjemput kedua orang tua Sikintan. Sikintan kana minta ampun. Ketika melihat kedua orang tuanya yang sangat miskin itu, Sikintan masih juga merasa malu. Sikintan mersa malu mengakui kedua orang tua itu adalah orang tuanya.
            Kedua orang tua yang datang dengan gembira karena anaknya akan minta ampun sekarang merasa sedih kembali. Sikintan belum mengakui mereka adalah ayah dan ibunya.
“ kalau Sikintan belum juga mengakui kami orang tuanya, ya sudahlah, ‘ setelah berkata begitu, kedua orang tua Sikintan poulang dengan hati yang pedih.
            Tak berapa lama kemudian, kapal Sikintan berangkat. Kedua orang tuanya berdoa kepada Tuhan, sambil berkata, “ ya Allah, kami tidak diakui sebagai orang tua oleh anak kami. Berilah dia hukuman yang Engkau kehendaki. “
            Usai oarang tua itu berdoa, datanglah angin kencang. Turun badai topan menenggelamkan kapal Sikintan. Beberapa minggu setelah kejadian, kapal itu tampak menjadi pulau. Di pulau itu hiduplah seekor monyet putih. Oarang berkata bahwa monyet itu adalah Sikintan yang durhaka kepada orang tuanya. Beberapa bulan kemudian, monyet itu tak nampak lagi, mungkin meninggal dunia dengan seribu penyesalan. Sampai saat in, pulau itu dinamakan Pulau Sikintan.

Unsur-Unsur Intrinsik Sikintan Anak Durhaka
  1. Tema                      : anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.
  2. Amanat            : janganlah sesekali berlaku durhaka kepada kedua orang tua sebab kita akan mendapat          hukuman yang setimpal karenanya, dan jangan pernah lupa diri karena bergelimpangan harta.
  3. Latar / setting          : disebuah perkampungan di Aceh.
  4. Alur                        : maju.
  5. Pusat pengisahan     : orang ketiga serba tahu.
  6. Penokohan dan perwatakan

  • Ayah Sikintan       : seorang ayah yang baik dan pekerja keras demi kelangsungan hidup keluarganya
  • Ibu Sikintan          : seorang ibu yang baik dan menyayangi anaknya.
  • Sikintan                 : anak yang melupakan dan durhaka kepada oarang tua. 

1 komentar: