Kamis, 19 April 2012

Perbedaan Antara Ilmu Sosial Dan Ilmu Alam


Tak dapat disangkal bahwa terdapat perbedaan antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, namun perbedaan ini hanyalah bersifat teknis yang tidak menjurus kepada perbedaan yang fundamental. Dasar ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari kedua ilmu tersebut adalah sama. Metode yang diperguankan untuk mendapatkan pengetahuannya adalah metode yang sama, tak terdapat alas an yang bersifat metodologis yang membedakan antar ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam.
Ilmu-ilmu alam mempelajari dunia fisik yang relatif tetap dan mudah dikontrol. Obyek-obyek penelaahan ilmu-ilmu alam dapat dikatakan tak pernah mengalami perubahan baik dalam perspektif waktu maupun tempat. Sebuah batuan yang menjadi obyek penelaahan kita tetapa merupakan batuan yang mempunyai karakteristik yang sama diamana dan kapanpun juga. Hal ini sangat berlainan keadaannya dengan manusia yang menjadi obyek penelaahan ilmu-ilmu sosial. Manusia mempunyai satu karakteristik yang unik yang membedakan dia dari ujud yang lain. Ia mempunyai kemampuan untuk belajar dan dan disebabkan oleh faktor belajar itu dia mengembangkan kebudayaan yang terus berubah dalam kuru zaman. Karakteristik manusia tidak hanya bervariasi dari waktu ke waktu tetapi juga dari satu tempat ke tempat lain sesuai dengan kebudayaan yang berhasil dikembangkannya.
            Dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-ilmu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan memcapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. Waalapun begitu, mereka beranggapan bahwa penelitian-penelitian di bidang ini akan mencapai derajat keilmuan yang sama seperti apa yang dicapai ilmu alam. Terdapat beberapa kesulitan tujuan ini karena beberapa sifat dari obyek yang diteliti ilmu sosial mempelajari tingkah manusia.

Berikut sedikit uraian tentang  perbedaan antar ilmu alam dan ilmu sosial :
1. Obyek penelaahan yang kompleks
Gejala sosial adalah lebih kompleks dibandingkan dengan gejala alami. Ahli ilmu alam berhubungan dengan satu jenis gejala yang bersifat fisik. Gejala sosial juga memiliki karakteristik fisik, namun diperlukan penjelasan yang lebih dalam untuk mampu menerangkan gejala tersebut. Untuk menjelaskan hal ini berdasarkan hukum-hukum seperti yang terdapat dalam ilmu alam dan ilmu hayat adalah tidak cukup.
Ahli ilmu alam berhubungan dengan gejala fisik yang bersifat umum. Penelaahannya meliputi beberpa  variabel dalam jumalah yang relative kecil yang dapat diukur secara tepat. Ilmu-ilmu sosial mempelajari manusia baik selaku perseorangan maupun selaku anggota dari suatu kelompok sosial yang menyebabkan situasinya bertambah rumit. Variabel dalam penelaahan sosial adalah relative banyak yang kadang-kadang membingungkan si peneliti.
Jika seorang ahli ilmu alam mempelajari suatu eksplosi kimiawi maka hanya beberapa faktor fisik yang berhubungan dengan kejadian tersebut. Jika seorang ahli ilmu sosial mempelajari suatu eksplosi sosial yang berupa huru-hara atau kejahatan maka terdapat faktor yang banyak sekali dimana diantaranya terdapat faktor-faktor yang tidak bersifat  fisik : senjata yang digunakan, kekuatan dan arah tusukan, urat darah yang tersayat, si pembunuh yang meluap-luap, dendam kesuamt pertiakaian, faktor biologis keturunan, kurangnya perlindungan keaamanan, malam yang panas dan memberonsang, pertikaian dengan orang tua, kemiskinan, dan masalah ketegangan rasial.
2. Kesukaran dalam pengamatan
Pengamatan langsung gejala sosial sulit dibandingkan dengan gejala ilmu-ilmu alam. Ahli ilmu sosial tidak mungkin melihat, mendengar, meraba, mencium, atau mencecap gejal yang sudah terjadi di masa lalu. Seorang ahli pendidikan yang sedang mempelajari system persekolahan di zaman penjajahan dulu kala tidak dapat melihat dengan mata kepala sendiri kejadian-kejadian tersebut. Seorang ahli ilmu fisika atau kimia yang bisa mengulang kejadian yang sama setiap waktu dan bisa mengamati suatu kejadian tertentu seara langsung. Hal ini berlainan sekali denagn ahli ilmu jiwa yang tak mungkin mencampurkan ramuan-ramuan ke dalam tabung reaksi untuk bisa merekonstruksi masa kanak-kanak seorang manusia dewasa. Hakiki dari gejala ilmu-ilmu sosial tidak memungkinkan pengamatan secara langsung dan berulang.
Gejala sosial lebih bervariasi dibandingkan dengan gejala fisik. Pada umumnya pengamatan pada tiap cc dari sejumlah volume asam sulfat menghasilkan kesimpulan yang tidak berbeda mengenai mutu asam tersebut. Pengamatan terhadap 30 orang anak kelas 1 Sekolah Menengah Pertama di kota tertentu lain sekali kesimpulannya dengan pengamatan terhadap jumlah murid dan sekolah yang sama di kota lain umpamanya ditinjau dari segi umr anak-anak tersebut.
Di dalam situasi tertentu seorang ahli ilmu sosial akan memperlakukan setiap individu secara sama rata umpamanya dalam tabulasi waktu lahir mereka. Akan tetapi karena variasi yang nyata dari hakiki manusia maka pengambilan kesimpulan secara umum dari pengambialn contoh ( sample ) dalam ilmu-ilmu sosial kadang-kadnag adalah berbahaya.
3. Obyek penelaahan yang tak terulang
Gejala fisik pada umumnya  bersifat seragam dan gejala tersebut dapat diamati sekarang. Gejala sosial banyak yang bersifat unik dan sukar untuk terulang kembali. Abstraksi secara tepat dapat dilakukan terhadap gejala fisik lewat perumusan kuantitatif dan hokum yang berlaku secara umum. Masalah sosial sering kali bersifat spesifik dalam konteks histories tertentu. Kejadian tersebut bersifat mandiri dimana mungkin saja terjadi pengulangan yang sama dalam waktu yang berbeda namun tak pernah serupa sebelumnya.
4. Hubungan antara ahli dengan obyek penelaahan
Gejala fisik seperti unsure kimia bukanlah suatu individu melainkan barang mati. Ahli ilmu alam tidak usah memperhitungkan tujuan atau atau motif palnit dan lautan. Tetapi ahli ilmu sosial mempelajari manusia yang merupakan mahluk yang penuh tujuan dalam tingkah lakunya. Karena obyek penelaahan ilmu sosial sangat dipengaruhi oleh keinginan dan pilihan manusia maka gejala sosial berubah secara tetap sesuai dengan tindakan manusia yang didasari keinginan dan pilihan tersebut.
Ahli alam menyelidiki prose salami menyusun hokum yang bersifat umum mengenai proses tadi. Sedangkan ilmu-ulmu sosial tidak bisa terlepas dari jalinan unsure-unsur kejadian sosial. Kesimpulan umum mengenai suatu gejala sosial bisa mempengaruhi kegiatan sosial tersebut.
Ahli ilmu sosial tidaklah bersikap sebagai penonton yang menyaksikan suatu proses kejadian sosial. Dia merupakan bagian integral dari objek kehidupannya ynag ditelaahnya. Ahli ilmu alam mempelajari fakta dimana dia memusatkan perhatiannya pada keadaan yang terdapat pada alam. Ahli ilmu sosial juga mempelajari fakta umpamanya mengeani kondisi-kondisi yang terdapat dalam dalam suatu masyarakat. 

2 komentar:

  1. membicarakan tentang ilmu memang tidak akan ada habisnya..baik itu ilmu alam maupun ilmu sosial

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas infromasi yang sudah disampaikan salam sukses selalu !

    BalasHapus