Kamis, 19 April 2012

Puisi Indonesia Kontemporer


Istialah puisi kontemporer dipadankan dengan istilah puisi inkonvensional, puisi masa kini puisi mutakhir. Istilah kontemporer pada puisi kontemporer tidak menunjuk keapada waktu walaupun di dalam kamus istialah itu berarti dewasa ini, masa kini atau masa mutakhir. Puisi kontemporer adalah bentuk puisi yang berusaha lari dari ikatan konvensioanal puisi itu sendiri. Misalnya, Sutardji mulai tidak mempercayai kekuatan kata tetapi dia mulai berpaling pada eksistensi bunyi dan kekuatannya. Danarto justru memulai kekuatan garis dalam menciptakan puisi ( Ina Kinayati, 1977, 1978: 81 ).
          Puisi Indonesia kontemporer dalah puisi Indonesia yang lahir da dalam waktu tertentu yang berbentuk dan bergaya tidak mengikuti kaidah-kaidah puisi lama pada umumnya. Ataua puisi Indonesia kontemporer adalah puisi Indonesia yang memiliki cirri-ciri nilai dan estetika yang berbeda dengan puisi-puisi sebelumnya dan pada umumnya.
          Dalam makalah Sumardi yang berjudul  Mengintip Puisi Indonesia Kontemporer
( dalam Dewan Kesenian Jakarta, 1979 ), menyebutkan cirri-ciri puisi Indonesia kontemporer sebagai berikut :
  1. Puisi yang sama sekali menolak kata sebagai media ekspresinya.
  2. Puisi yang bertumpu pada symbol-simbol non kata, dan menampilkan kata seminimal mungkin sebagai intinya.
  3. Puisi yang bebas memasukkan unsure-unsur bahasa asing atau bahasa daerah.
  4. Puisi yang memakai kata-kata supra, kata-kata yang konvensional yang dijungkirbalikkan dan belumdikenal masyarakat umum.
  5. Puisi yang menganggapa tipografi secara cermat sebagai bagian dari daya atau alat ekspresinya.
  6. Puisi yang berpijak bahasa inkonvesional, tetapi diberi tenaga baru dengan menciptakan idiom-idiom baru.
Sementara itu Rachmad Djoko Pradopo (1984), menguraikan cirri-ciri puisi Indonesia kontemporer, yaitu :
  1. Puisi kontemporer mantera dengan sarana kepuitisan berupa pengulangan kata, farasa atau kalimat.
  2. Gaya bahasa paralelisme dikombinasikan dengan gaya bahasa hiperbola dan enumerasi diperguankan penyair untuk memperoleh efek pengucapan maksimal ; tipografi puisi dieksplotasi secara sugestif dan kata nonsens dipergunakan dan diberi nama baru.
  3. Banyak diciptakan puisi konkret sebagai eksperimen.
  4. Kata bahasa daerah banyak dipergunakan untuk memberikan efek ekspresif
  5. Asosiasi bunyi banyak diperguankan untuk memperoleh makna baru.
  6. Puisi-puisi imajisme banyak ditulis; dalam puisi imajis banyak digunakan kiasan alegori, ataupun parabel.
  7. Banyak digunakan gaya penulisan yang prosais.
  8. Banyak yang ditulis puisi lugu yang yang mempergunakan ungkapan gagasan secara polos dengan kata-kata serebral dan kalimat biasa yang polos.
  9. Banyak kata-kata tabu yang digunakan, baik dalam konteks puisi main-main, puisi protes, puisi pamplet, maupun puisi konkret.

1 komentar: